Adinda, serak-serak waktuku menipis dalam lingkaran yang mungkin tersusun kata rindu
Untuk kuucap kala hidupmu dicumbui jingga yang tersanggah di antara dua senja
Menikmati teguk hamar dari sari segala lisan, yang kau titahkan untuk keringnya pusaran rasaku
Untuk hambarnya rerumputanku, dikala terbelai oleh yang tenggelam di ufuk barat.
Adinda, raga hunianku coba berkata-kata, menusuk kalimat untuk madu yang tak berasa
Yang tak diraba oleh lebah, walau yang terpatah sayap-sayapnya
Sampai menghilang kering di antara susunan batu bata, atau di bunga yang layu tanpa diterka
Bahkan pada bumi yang kian tersiksa dan menggempa, dan mungkin tak sudi ditatap oleh brahmana.
Adinda, jika nanti kau mencoba menjaring segala mentari, ikutkan aku dalam senandung kala kau menari
Biar ucap ragamu jadi tabib yang senantiasa mengikatku dalam lingkar rindu, walau kadang itu hanya harapan mati
Untukmu adinda, rela pula aku tak terberi, dan menangis hitam menghayati perih
Jangan kau berlari, atau aku layang dalam angan yang lama mengekang bagai penjara para penyair.
Adinda, pahami kata dari lorongmu yang tak terputus dan dari matamu yang tak terbuta
Agar rinduku tidak mati dalam puisi yang sia-sia.
Makassar, 09/01/2013
01:27 PM/SHA
Untuk kuucap kala hidupmu dicumbui jingga yang tersanggah di antara dua senja
Menikmati teguk hamar dari sari segala lisan, yang kau titahkan untuk keringnya pusaran rasaku
Untuk hambarnya rerumputanku, dikala terbelai oleh yang tenggelam di ufuk barat.
Adinda, raga hunianku coba berkata-kata, menusuk kalimat untuk madu yang tak berasa
Yang tak diraba oleh lebah, walau yang terpatah sayap-sayapnya
Sampai menghilang kering di antara susunan batu bata, atau di bunga yang layu tanpa diterka
Bahkan pada bumi yang kian tersiksa dan menggempa, dan mungkin tak sudi ditatap oleh brahmana.
Adinda, jika nanti kau mencoba menjaring segala mentari, ikutkan aku dalam senandung kala kau menari
Biar ucap ragamu jadi tabib yang senantiasa mengikatku dalam lingkar rindu, walau kadang itu hanya harapan mati
Untukmu adinda, rela pula aku tak terberi, dan menangis hitam menghayati perih
Jangan kau berlari, atau aku layang dalam angan yang lama mengekang bagai penjara para penyair.
Adinda, pahami kata dari lorongmu yang tak terputus dan dari matamu yang tak terbuta
Agar rinduku tidak mati dalam puisi yang sia-sia.
Makassar, 09/01/2013
01:27 PM/SHA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar