Tampilkan postingan dengan label menulis cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis cerpen. Tampilkan semua postingan

Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen

Baiklah kawan-kawan pembaca sekalian, berikut kumpulan cerpen pilihan karya para penulis muda yang tersebar di beberapa daerah Indonesia. 

FOREVER LOVE
Karya Alifiant Jerry Kumara

PONOROGO, adalah sebuah kota kecil yang tenang dan damai. Kota ini, terkenal dengan kesenian REOGnya. Itulah yang membuat aku bangga dengan kota ku ini. Namaku Andi. Umur 17 tahun. Aku memang bukan kelahiran sini. Tetapi, aku sangat senang tinggal di kota yang menurut orang banyak siih, “Terpencil”. Hmm… aku tinggal di sini bersama kedua orang tuaku, dan dua orang adik ku. Mereka masih kecil-kecil. Adikku yang pertama maih berumur 8 tahun. Sedangkan yang paling kecil masih berumur 3 tahun. Masih imut-imutnya.. hehehe.. Sekarang, Aku bersekolah di salah satu MA yang cukup terkenal di kotaku. Sebuah sekolah yang sangat tidak kuharapkan sejak dulu.

Diawal masuk sekolah ini, aku sudah merasa nggak betah! Manurutku, terlalu banyak pelajaran. Dan otomatis, tugas pun menumpuk. Haduuuh.. kata Bapakku “namanya juga MA”. Sangat enteng sekali beliau mengatakan itu. Namun, di tengah pelajaran yang sangat menyiksaku, ada satu yang aku suka dari sekolah ini. Yaitu, lebih banyak murid perempuan daripada murid laki-lakinya. Sehingga, jenuhku agak berkurang. Hehehe… Ada seorang cewek yang sempat menarik perhatianku. Dan setelah aku tanya-tanya kepada teman-teman, ternyata namanya Lia. Dia adalah seorang gadis yang cantik, manis, pinter, yaa bisa di bilang primadona lah! Hehehe.

Forever Love
Di suatu hari, aku coba deketin dia. Aku memberanikan diri buat minta NoPe nya. Waktu dia makan di kantin, aku langsung aja duduk di sampingnya. Ya pertamanya siih, basa-basi dulu.. namanya juga anak muda. Hehehe. ! setelah beberapa lama aku ngobrol sama dia, aku langsung ngomong apa sebenarnya niat ku waktu itu. Dan ternyataaa… Aku dapet nomer hape nya! Yess! Batinku melonjak-lonjak! Hahaha… Aku serasa terbang waktu itu. Padahal, Cuma dapet nomer hape nya. Apalagi dapetin cintanya.. hahaha.. dan dari situlah, carita cintaku sama Lia dimulai. Aku jadi serinng sms an sama dia. Telpon-telponan, curhat-curhatan, dan banyak deh. Aku kasih perhatian ku buat dia. Ya tujuannya tidak lain tidak bukan ya, buat mengambil hatinya dia. Dan selama itu juga dia terus merespon semua tindakanku. Dia nggak pernah sekali pun ninggalin aku waktu kita smsan. Dan aku yakin, bahwa dia juga punya rasa yang sama kaya aku. (PD beudh! Hahaha).. aku makin yakin kalo dia juga suka sama aku sewaktu kita ada pelajaran olahraga. Waktu itu, aku sedang main bola, dan aku jatuh. Nah dia yang pertama kali nolongin, dan tanya keadaan ku. Dan lirikannya itu looo.. hahaha. Bikin mati. Wkwkwk.
Nggak lama kemudian, aku nekat mau nembak dia. Tapi lewat sms dulu. Gini ni
“Lia, aku mau ngomong jujur nih sama kamu”

Trus, dia bales,
“mau ngomong apa’an? Koq serius banget kayanya??”
“AKU SUKA SAMA KAMU! MAU NGGAK KAMU JADI PACARKU??”
Lamaa banget dia balesnya, trus, aku sms lagi,
“aku nggak maksa kamu koq. Kamu tinggal jawab “YA” ato “NGGA”!”

Lalu, dia jawab sms ku.
“YA!”
Wow!!! Aku melompat-lompat! Aku teriak! Aku seneeeeng banget ! akhirnya penantian ku ada akhirnya! Aku bukannya terbang lagi, tapi aku sudah malayang-layang di udara! Aku jadi nggak sabar buat ketemu pacar baruku di sekolah besok. hehehe..

Keesokan harinya, badanku rasanya ringan banget. Aku udah nggak sabar ketemu dia di kelas nanti. Nggak sabar ngelihat wajah manisnya. Hehehe. Sesampainya di kelas, lalu kulihat-lihat, aku nggak lihat dia di sana. Aku tanya ke teman-teman satu kelas. Ternyata nggak ada yang tau kemana pujaan hatiku pergi. Aku khawatir terjadi apa-apa sama dia. Lalu, aku sms dia,
“sayang, kamu dimana?? Koq belom nyampe kelas?”
Nggak lama kemudian, dia menjawab sms ku,
“maaf, ini temannya Sinta ya? Mas, tolong sampaikan ke bapak/ibu guru di kelas, kalo Sinta hari ini ngga bisa masuk sekolah. Tadi, waktu dia berangkat sekolah, dia mengalami kecelakan. Dan sekarang, lagi dirawat di rumah sakit.”
Setelah membaca sms itu, tanpa pikir panjang aku langsung menuju rumah sakit tempat Sinta di rawat. Aku tanya ke perawatnya,
“mbak, permisi. Kamarnya korban kecelakaan yang bernama Sinta di mana ya?”

Dan dijawab,
“oo, sekarang Dia sedang kritis di ruang ICU.”
“ya udah. Terimakasih mbak!”
“ya, sama-sama.”

Lalu, aku langsung berlari menuju ruang ICU. Setelah sampai disana, aku menemui ada 2 orang yang duduk di depan ruangan itu. Aku berfikir, pasti orangtuanya. Dan ternyata, dugaanku benar. Mereka adalah orangtua Sinta. Lalu aku tanya kepada mereka,
“pak, saya temannya Sinta. Bagaimana keadaan Sinta, Pak?”
Sambil menangis, beliau menjawab,
“dia sedang kritis, nak.”

Aku sangat terpukul mendengarnya. Tak lama kemudian, dokter yang menangani Sinta keluar dari ruang ICU. Dia berkata,
“disini, yang mana yang keluarganya pasien?”
“kami, pak! Bagaimana keadaan anak kami?”
Dengan muka lesu, dokter menjawab,
“maaf, pak, bu. Kami sudah berusaha..”

Mendengar itu, aku berteriak,
“APA!! Apa maksud dokter? Sinta nggak mungkin meninggal!! Nggak mungkin! Ini nggak mungkiiin!!”
Lalu, aku berlari keluar rumah sakit. Aku sangat nggak percaya dengan apa yang terjadi hri ini. Baru saja aku bahagia, dia mau menerimaku sebagai pacarnya. Tapi, itu hanya sesaat! Kenapa kamu begitu cepat meninggalkan ku! Kenapa? Apa kamu nggak sayang sama aku?? Kenapa, Sintaa!! Beberapa hari aku termenung di rumah. Aku nggak makan, aku nggak sekolah. Sampai-sampai, orangtuaku bingung. Tak lama kemudian, aku keluar kamar. Aku cerita semuanya ke orangtua ku. Mereka pun ikut sedih. Lalu, mereka mengajakku ke rumah Sinta.

Sesampainya di rumah Sinta, kedua orangtuaku langsung menyampaikan niatnya untuk datang ke sana. Di sana masih dalam suasana berduka. Aku sangat sedih. Aku hanya diam. Aku membatu. Aku masih belum percaya apa yang sebenarnya terjadi. Lalu, orangtua Sinta menasehatiku.
“nak, kamu yang sabar, ya. Mungkin, Sinta bukan jodoh kamu. Kami sebenarnya juga nggak percaya, Sinta akan meninggalkan kami begitu cepat. Tapi, yang namanya rezeki, hadup, dan mati, sudah di atur oeh tuhan, nak. Kamu yang sabar, ya.”
“iya, pak, bu. Saya Cuma masih nggak percaya. hubungan kamu hanya berlangsung satu malam. Itu yang membuat saya sangat terpukul. Tapi, mulai sekarang, saya akan berusana move on. Saya tahu, saya nggak boleh kaya gini terus. Terimakasih, pak, bu. Karena anda sudah menyadarkan saya. Sekali lagi, saya berterimakasih kepada anda.”
“iya nak. Sama-sama..”
Tak lama kemudian, aku dan orangtuaku pamit untuk pulang kepada orang tua Sinta. Aku pulang dengan perasaan yang tenang. Aku sudah mulai bisa ikhlas atas kepergian Sinta. Dan mulai saat itu, aku berjanji. Aku akan berusaha melupakan kejadian ini. Aku ingin Sinta tenang di alam sana. Aku akan tetap setia dengan cintaku padanya. Dan sampai sekarang, Aku masih berjanji. Aku nggak akan melupakan cinta Sinta. SELAMANYA

SEKUNTUM KENANGAN BUAT SEPOTONG SENJA
(Terinspirasi dari cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Aji Darma)
Karya Ilham

Senja kala itu masih begitu terasa dalam ingatan. Beberapa waktu silam, ketika sang surya mengendap-endap balik ke peraduan, kami berdua bagitu mesrah menikmati lautan yang mulai keemasan. Riak-riak lautan yang terus mencumbui pasir pantai seakan turut bersuka melihat kemesraan kami. Ikan-ikan serupa teri yang sedang bekejaran menambah keestetikaan alam lautan sore itu. Di senja itu pula menyadarkan kami, betapa indahnya ciptaan tuhan. Walau disayangkan, akibat kerakusan manusia, semesta ini hanya dipandang jika mampu memuaskan nafsu-nafsu mereka.

Ketika ruang terus bersekutu pada waktu, lamat-lamat senja itu menghilang tanpa kami sadari. Satu persatu tiang-tiang lampu yang berdiri tegak di sepanjang hamparan pantai satu persatu memancarkan sinarnya. Mungkin manyambut datangnya malam itu, ikan-ikan kembali melompat tak karuan seakan ingin memangsa pijaran lampu di riak lautan itu. Kami yang mengabadikan peristiwa itu walau hanya sebatas pandangan memaksa kami turut bahagia melalui simpul senyuman.
“ Dinda, andai semua manusia tahu apa yang terjadi di malam ini, mungkin pembantaian, perusakan rumah warga tak akan pernah terjadi. Coba pandangi ikan-ikan yang melompat itu, meski di dalam lautan sana hidup mereka tak pernah aman, mereka terus saja menikmati damainya kehidupan ini”. Begitu kata yang sempat terbisik di telinga kananku ketika kami terus memandangi ikan-ikan kecil itu. Tanpa bersua, kusempatkan menatap wajah kekasihku itu sambil membalas ucapannya dengan senyuman manisku.

Sekuntum Kenangan Buat Sepotong Senja
Yah, begitulah sekuntum kenangan yang ditorehkannya ketika kami sedang menghabiskan waktu untuk yang terakhir kalinya bertatap muka. Kenangan di senja itu menjadi pelipur lara hatiku ketika ingatan ini tersibak wajah polos dan lugunya itu. Itulah sebabnya, untuk yang ketiga kalinya bulan berganti tahun aku tak mampu untuk meluangkan waktu sejenak memalingkan wajah ke bibir pantai. Apalagi dengan matahari senja, meski sudah nampak seperti sedia kala aku belum juga bisa menikmatinya walau sejenak. Jujur, bukan karena apa dan siapa sehingga perasaan membuatku demikian. Setelah kejadian yang kualami beberapa tahun lalu, hal itu terus saja memaksaku untuk merasa bersalah seumur hidup.

Kasihku, setelah membaca kisahmu aku berfikir, mungkin apa yang menjadi goresan duka kita selama ini akan sedikit terobati jika aku sejenak menceritakan kisah perpisahan kita selama ini. Sebenarnya aku juga menyadari, bahwa apa yang akan aku ceritakan ini tak akan mampu sepenuhnya membaluti luka hatimu. Bukan karena cerita ini aku kisahkan padamu hanya melalui lembaran putih kertas. Tetapi seperti katamu dulu, bahwa kamu tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia lagi. Karena menurutmu kata-kata ternyata tidak mampu untuk mengubah apa-apa. Kasihku, walau demikian benar adanya, namun aku akan mencoba memulai kisah ini dengan penuh harap, semoga kata-kata ini mampu menggetarkan hatimu yang tengah luka.

Kasihku, mungkin kamu masih ingat ketika kamu duduk seorang diri di pantai. Waktu itu senja tengah berdiam pada waktu. Sambil memandangi burung-burung dan pasir yang basah dipantai itu, katamu, engkau pun sempat melihat siluet batu karang sambil mengharap ada bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih di atas batu yang berwarna-warni berhiaskan lokan. Menikmati panorama seperti itu, tiba-tiba saja engkau tersentak melihat cahaya bergetar bersama senja. Waktu itulah kamu tersentak dan mengingatku. Katamu, senja bergetar itu sepertinya cocok buatku. Dan, tanpa berfikir panjang engkau memotong senja itu dengan ukuran sebesar kartu pos lalu berlari menuju mobil.

Kasihku, hal inilah yang sangat perlu kuceritakan padamu. Setibanya aku di rumah saat kamu mengantarkan aku pulang di malam itu, aku langsung menuju kamar tidurku. Aku terperanjat kaget. Saat membuka lebar-lebar daun pintu kamar, tiba-tiba saja mataku silau akibat pijaran cahaya yang memutih. Saat itu pula aku merasa bahwa akulah wanita yang paling istimewa di antara wanita-wanita lain di seantero bumi akibat pijaran cahaya itu. Meski hampir tak dapat melangkah akibat silau mataku, kupaksakan diri untuk melangkah mencari dari mana asal cahaya itu. Tak berselang lama kemudian, di naungan cahaya indah yang sebenarnya telah lama kuidamkan itu, dengan samar-samar aku melihat selembar amplop berwarna putih. Aku yang tak dapat menahan kebahagiaanku saat melihat cahaya itu, kuberanikan diri untuk meraih amplop itu. Hanya beberapa detik di genggamanku, tepi amplop itu perlahan-lahan kusobek dan melihat apa isinya.

Betapa girangnya hati ini, saat kudapati rupanya amplop itu berisikan serpihan bulan purnama. Cahayanya yang memutih berbinar-binar mengalahkan indahnya warna senja kemerahan yang selama ini kita kagumi. Dengan tergesa-gesa kubaca nama pengirim serpihan bulan purnama itu. Namun, kecewa sempat bertarung pada kagumku, rupanya nama yang tergores di amplop itu bukan namamu, melainkan nama lelaki lain yang tak perlu kusebutkan padamu. Meski rasaku seperti itu, aku berfikir, rupanya cintamu selama ini tak berarti apa-apa dibanding cinta lelaki itu padaku. Akhirnya, mulai malam itulah aku memutuskan untuk tidak menerima apapun darimu lagi sebagai tanda rajutan cinta kita selama ini kini tinggal seonggok kenangan saja. Detik itu juga, cinta dan segala yang ada pada diriku kulabuhkan pada lelaki itu.

Rasa yang terus saja bahagia memiliki serpihan purnama, tak terasa olehku rupanya malam telah berlalu. Melalui celah jendela kamar, kupandang mentari yang rupanya telah bertengger di balik pegunungan. Aku yang terus memeluk erat serpihan bulan purnama itu, wajahmu sempat terlintas di benakku. Entah mengapa, fikiranku tiba-tiba saja memutuskan untuk menemui dan memberimu kabar tentang usainya hubungan asmara kita. Setelah membersihkan tubuh dari kelelahan malam, aku pun meninggalkan rumah seusai menutup rapat jedela kamar agar bias cahaya surya tak mampu menyelinap masuk untuk mencoba mengusir cahaya serpihan rembulan purnamaku.

Hampir seharian mencari keberadaanmu yang tak kunjung kutemui, setelah sang surya mengubah dirinya menjadi senja yang tak lagi kukagumi, aku memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Apalagi rasa rindu pada serpihan rembulan purnamaku sudah tak mampu kubendung lagi. Tapi ketahuilah kasihku, waktu itu aku menyempatkan diri ke kantor polisi dan menemui orang-orang yang mengenalimu. Semua itu aku maksudkan hanya semata-mata agar merekalah yang menyampaikan kabar tentang matinya perasaan cintaku padamu.

Kasihku, tak berselang lama kemudian, sesampainya di rumah, setelah aku usai melepaskan rasa rindu pada serpihan bulan purnamaku, aku dengan sengaja menonton tv hanya sekedar ingin tahu kabar terakhir para polisi dan orang-orang yang kutemui sebelumnya. Alangkah kagetnya aku. Semua siaran tv di sore itu rupanya memberitakan tentang pengejaran dirimu. Menanggapi akan hal itu, aku kembali berfikir, sebenarnya apa yang membuatmu berlari menghindari polisi dan orang-orang yang bermaksud baik padamu. Terus saja aku tak melepas pandanganku ke layar tv membuat tatapanku tertuju pada gambarmu yang sempat terekam kamera wartawan saat kamu berjalan sambil mengantongi sesuatu.
“Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana”. Saat membaca kisah seperti itu darimu, aku baru tahu apa maksud kamu menghindari polisi dan orang-orang itu. Rupanya kamu mengira mereka akan menghakimimu karena mengambil sepotong senja buatku yang sebenarnya sudah tak pernah kuharapkan lagi.

Kasihku, sebenarnya aku salut padamu. Mungkin karena rasa cintamu padaku sehingga kamu nekat memotong senja. Tapi saat aku tahu semuanya, kekecewaanku semakin membungbung tinggi padamu. Dari sekian kali tahun berganti dalam hubungan asmara kita dulu, ternyata kamu belum mampu merasakan apa yang sebenarnya aku inginkan darimu. Aku sadar, saat kemesraan kita bak mekar sekuntum mawar dulu aku sering mengajakmu menikmati senja di tepi pantai. Tapi itu bukan semata-mata untuk meyakinkan kamu bahwa aku benar-benar menyukai yang namanya senja. Aku hanya ingin agar kamu memperhatikan siapa saja yang menikmati senja itu. Orang asing dari berbagai negara bebas merampas kekayaan negeri kita dengan berdalih ingin menikmati indahnya senja di negara kita ini. Mereka dengan otaknya yang encer seolah-olah mengagumi budaya bangsa kita yang sama sekali tak ada di negaranya. Dan lebih parahnya, mereka juga seakan mengagumi senja di pantai kita, padahal senja di pantai pasti ada di negara mereka juga kan. Ditambah lagi pemerintah kita yang hanya memikirkan infestasi agar kantong mereka mudah dipenuhi lembaran uang. Mereka sama sekali tak pernah memikirkan bagaimana nasib rakyat Indonesia yang miskin ini tiap hari memunguti sampah bekas makanan dan minuman orang-orang asing. Coba kamu pikir, semua ini akibat apa kalau bukan karena senja yang hanya dinikmati bagi mereka yang elit saja.

Kasihku, lelaki yang pernah mengisi hai-hariku dengan senja. Sekali lagi, semua ini kukatakan padamu agar apa yang selama ini engkau kagumi sebenarnya tidak seindah dengan apa yang ada di rasamu. Kisah ini sengaja ku ungkapkan agar engkau tersadar bahwa segala yang kita anggap baik-baik saja ternyata semuanya bermasalah. Mulai dari sekolah yang mengumbar pendidikan gratis nyatanya masih banyak orang tua di negara ini yang tak mampu menyekolahkan anaknya hanya akibat mereka tak mampu membayar biaya pendidikan yang tak dapat mereka jangkau. Kasihku, masih ingatkah kamu saat kita masih kuliah dulu. Kampus kita yang katanya siap untuk mengabdi bagi mereka yang tak punya, seenaknya saja menaikkan biaya perkuliahan kita. Mulai dari pembayaran ospek, PPL, hinggga pembayaran wisuda seenaknya saja dinaikkan. Padahal semua mahasiswa tahu, bahwa mulai dari bangunan fisik sampai system perkuliahan tak ubahnya kapal pecah yang karam di samudera hindia. Dan bukan hanya itu, negara yang dikenal dengan kekayaan alamnya ini rupanya berutang sebanyak sembilan juta per orang. 

Coba kamu hitung, berapa banyak jumlah utang negara kita jika dijumlahkan dari keseluruhan penduduk yang ada di negara ini. Mungkin sampai kiamat tiba, utang Indonesia ini tak akan pernah terlunasi lagi. Kejadian seperti ini hanya akibat ulah pemerintah kita yang nampaknya baik-baik saja namun nyatanya bermasalah. Akibat kebutuhan yang tak terpenuhi, perampokan dan saling bunuh membunuh sudah teramat lumrah di mata orang. Korupsi yang tak pernah lepas dari pejabat sudah tak dianggap sifat yang memalukan lagi. Semua kejadian seperti itu menandakan bahwa apa yang selama ini kita anggap baik-baik saja rupanya bermasalah. Ooooh, maaf. Kalau aku jadi ngelantur seperti ini. Padahal aku hanya ingin mengisahkan tentang indahnya sepotong senja yang kamu anggap baik-baik saja.

Kasihku, lelaki yang tak akan pernah luput dari ingatanku. Sebelum aku mengakhiri kisah ini, aku ingin berkata padamu untuk kesekian kalinya. Melalui tulisan ini aku mewakili rasa permohonan maaf para polisi dan orang-orang yang dulu mengejar-ngejar kamu. Perlu kamu ingat, bahwa mereka sebenarnya tidak keberatan saat kamu mengambil sepotong senja buatku di pantai itu. Tapi, seperti yang aku katakan sebelumnya, mereka mengejarmu hanya untuk mengatakan bahwa aku telah mendapatkan serpihan bulan purnama dari seorang lelaki.

Kekasihku, aku tahu, pasti kamu telah bosan membaca kisahku ini. Tapi tenanglah, kamu tak perlu khawatir. Cerita ini akan benar-benar kusudahi. Biarlah kisah-kisah yang tak sempat aku ceritakan padamu melebur satu bersama ruang dan waktu yang telah jadi sejarah.

Selamat menikmati langit sore di dunia paling sunyi kasihku. Semoga senja yang selama ini kamu kagumi tetap setia membentuk cakrawala demi keindahan bumi. Dan satu lagi, sepotong senja yang kau kirimkan dulu tak pernah aku terima. Sebab, apa yang kau cemaskan telah benar-benar menjadi nyata. Lautan dan matahari telah membakar langit dan airnya tumpah membanjiri permukaan bumi. Akibatnya, buah hatiku yang terlahir bersama cahaya bulan purnama kini menjadi pedagang asongan yang menjajakan senja tiruan di perempatan jalan.
“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”
Sekian

PROFIL PENULIS
Nama : Ilham
Alamat : MANDAR
Status : Ketua HMJ Gerakan Mahasiswa Bahasa Indonesia dan sebagai Mahasiswa Unasman Jurusan Bahasa Indonesia.
Alamat email : illankijie@yahoo.com


TASBIH CINTA AKHIR TAHUN
Karya Fatma

Matahari siang itu tidak menyapa, langit dengan jubanya yang kelabu seakan ikut berduka. Beberapa detik kemudian atap bumi yang tak terhingga ukurannya itu menangis terisak, hingga antero bumi basah kuyup. Sebagian makhluk ciptaan Tuhan bersyukur akan anugrah itu, dan sebagiannya lagi berduka menyambutnya. Namun, apa mau dikata semua karena-Nya, tidak ada yang dapat menghentikan kejadian itu. Rinai hujan yang jatuh mengantarkan lamunanku pada sosok seorang pria yang berperawakan tinggi, hitam manis, dan bepostur ideallah. Dari badannya itu bisa dikatakan pria ini termasuk dambaan beberapa wanita, terbukti inbox di telepon genggamnya banyak yang masuk dari beberapa wanita, entah hanya untuk say hay, menanyakan kabarnya, dan sebagainya. Namun keberuntungan menghampiriku, ketika itu saya termasuk wanita yang mampu menaklukkan hatinya.

Saya sempat menjalin hubungan dengannya hingga usia pacaran kami menginjak empat bulan. Hari-hari kami lalui bersama, canda tawa, hingga dukapun sudah kami rasakan bersama..

Tasbih Cinta Akhir Tahun
Tak berapa lama, telepon genggamku berbunyi, hatiku tiba-tiba berbungan melihat nama yang tertera di dalamnya menunjukkan angin segar menghampiriku….
“Met siang sayang,” kata itu selalu terdengar di telingaku setiap harinya.
“siang juga sayangku”, jawabku. Siang buat kami adalah pengganti pagi karena pacarku kali ini, sangatlah istimewa, dia sangat berbeda dari pria lain yang pernah dekat denganku…. Kebiasaannya itu sangat unik, dia baru bangun ketika jarum jam menunjukkan angka 12..bagaimana tidak, dia baru bisa memejamkan matanya ketika adzan subuh berkumandan…
“Hari ini ngapain aja dan akan ke mana?”. Tanyanya lagi.
“Hari ini aku sibuk di kampus, setelah itu, mau kerja”. Timpalku atas pertanyaanya….
“Ingat jaga kesehatan, jangan lupa makan, tenaga jangan terlalu diporsir”. Katanya sebelum mengakhiri pembicaraan.
“Iya, kamu juga yach sayang, jaga kesehatan”. Kata itu selalu terucap dari bibir kami ketika menutup pembicaraan sebagai bentuk perhatian.

Tiba di kantor, jejaring sosial facebook selalu menemani waktu luangku.
“Hay Fat,” sapa seorang teman dari kejauhan sana, kami dipertemukan lewat maya.
“Hay, juga, bagaimana kabarmu?” jawabku, sekaligus bertanya juga sich.
“Alhamdulillah, kabarku baik, bagaimana hubunganmu dengan Mhail?” tanyanya lagi.
“Hubunganku dengan Mhail baik, mangnya adaapa?” tanyaku penasaran.
“G’ apa-apa kok, Cuma nanya aja, semoga langgeng dengannya yach”…. Katanya, menjawab pertanyaanku.
“Amin, semoga langgeng,” jawabku menimpali, sambil mengirimi emoticon senyum.
Mia adalah salah satu temanku yang banyak sedikitnya tahu tentangaku dan juga tentang Mhail. Kami bersama-sama selama 2 bulan di lokasi KKN. Mia dan Mhail sama-sama dari Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, sedangkan saya dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Cintaku dengan Mhail pun bersemi di lokasi KKN, kebiasaan baik hingga terburuk pun semua sudah diketahui oleh Mhail, tidak ada lagi yang tertutupi, semuanya terungkap belak-belakan mulai dari bangun tidur sampai mata tertutup kembali dia ketahui, semua aktivitas siang malamku sudah terjelaskan dengan baik. Satu hal yang sangat mendukung terjalinnya hubungan kami, yaitu jabatan. Mhail sebagai Kordes dan saya sebagai Sekretaris Kordes. Jabatan itulah yang kemudian selalu membuat kami bersama. Tanpa kami rasakan cinta itu bersemi dari kebersaman yang kami lakoni setiap harinya. Kan Kordes ma sekretarisnya tuh selalu bersama, hingga merangkap jadi Sekretaris pribadi.

Cerita itu penuh kenangan yang tak dapat tergantingan dengan cerita apapun, “Brrrrrrrrrrruuuuuukkkkkk”, lamunanku terbuyarkan mendengar suara bingkai foto yang jatuh tepat dihadapanku. “sial, buat kaget saja, padahal lagi asyik-asyiknya ngelamunin masa-masa indah ketika di lokasi KKN”, geramku dalam hati.
“Halo, lagi di mana dan ngapain sayang?”, suara yang ku dengar tapi tak berwujud.
“lagi di rumah sayang, lagi istirahat soalnya badanku lagi tidak bersahabat, jenguk yach sayang”. Jawabaku dengan nada yang lemas berharap dia datang seketika itu.
“Tunggu sebentar yach sayang, aku baru bangun dan mau mandi dulu,” tambahnya.
Telepon genggam itupun kemudian kembali ku letakkan, di atas guling berwarna hijau yang dengan setia dari tadi menemaniku, setelah tak lagi ku dengar suara dari seberang sana.
Tak lama menunggu, ketukan terdengar dari luar pintu, hatiku berseri, sambil berterika “Tunggu”, ku poles wajahku dengan cepat di depan cermin, berharap dia akan berseri juga melihatku.

Ku buka pintu dan menyuruhnya masuk, wajahku seketika itu berubah pucat, ketika ku melihat wajahnya yang juga pucat, “Ada apa sayang?” tanyaku dengan heran. Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia hanya terdiam membisu. Ku mencoba mendekat, merangkulnya, mengusap kepalanya, dan kusandarkan kepalaku di pundaknya. Kembali ku bertanya “Ada apa sayang”, ku heran karena tak seperti biasanya dia seperti itu. Kupaksa tuk menceritakan semuanya. Akhirnya, dia buka mulut, sambil dia bercerita, ku berdiri meninggalkannya dan beranjak ke jendela sambil melihat keluar rumah. “semalam aku kembali bermimpi di datangi oleh kekek, pesan yang disampaikannya, bahwa aku harus lebih dekat dengan Tuhan, dan jika aku mau kembali ke jalan yang benar, maka aku harus meninggalkanmu”, katanya. Dari sekian banyak kata yang dia ungkapkan, hanya deretan kata itu yang terekam dengan baik hingga tak bisa terhapus dari pikiranku.

Seketika itu air mataku tumpah mendengar cerita dari mimpinya itu, karena sudah dua kali berturut-turut dia bermimpi seperti itu. Ku tak bisa menerima semua itu, berpisah dengannya sangat menyakitkan, hatiku tersayat, hingga nafas serasa sesak… ku tank sanggup mengahadi semuanya….. ku berlari ke WC, dan dia pun mengikutiku, ku lampiaskan semuanya di dalam WC, aku benar-benar tidak sanggup tuk berpisah, rasa sayangku ke dia sunggu sangat dalam, bahkan kedua keluarga kami juga sudah merestui.

Hati kecilku berharap dia mengambil keputusan untuk tetap bersamaku, dan memperbaiki semua kesalahan yang kemarin yang telah dilakukan secara bersama-sama. Nyatanya, dia mengambil keputusan untuk berpisah…. Padahal tidak ada masalah apa-apa yang terjadi, aku sangat sulit untuk menerima itu semua. Kejadian itu tepat tanggal 30 Desember, tak ada petir dan tak ada apa-apa, seketika itu hujan deras turun dari kedua kelopak mataku. Walaupun sangat sulit untuk ku terima, tapi aku harus kuat, semua telah digariskan oleh Tuhan, mungkin berpisah dengannya adalah jalan terbaik untuk mendekatkan diriku dan dirinya kepada Tuhan… dan disetiap akhir sujudku selalu kupanjatkan kepada Tuhan untuk memberikan yang terbaik……. Sakit memang sakit, tapi mau bagaimana lagi….pada saat itu jualah ku berjanji tuk tak lagi menjalin cinta dengan pria lain..

PROFIL PENULIS
Nama : Fatmawati U.
Panggil : Fatma
Tempat, Tanggal Lahir : Boddie, 15 Juli 1991
Kota : Pangkep, sulawesi Selatan
Hobby : Nulis
R.Pendidikan : Semester 7, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar


SEMANIS SUSU, SEPAHIT PARE.
Karya Rafael Stefan Lawalata.

''Ergghh enggak, terimakasih...'' jawab Raden mengangkat piringnya jauh-jauh dari gerobak tukang siomay. Siang yang terik itu, dia bersama temannya, Irama, sedang menikmati suasana sejuk di kantin kampus, dekat dengan pepohonan rindang yang meringkuk. Raden berjalan menuju meja yang telah diduduki Irama sedari tadi, tentunya membawa sepiring siomay kesukaannya.
''Gak pake pare lagi?'' tanya Irama.
Raden menggelengkan kepalanya, ''Yah, lu tau kan kalau gua gak suka sama pare?''

Irama mencoba menahan suara tawa dari mulutnya karena mendengar ucapan temannya itu. ''Lucu juga ya lu Den.''
''Lucu kenapa?'' tanya Raden mengambil posisi duduk berhadapan dengan Irama.
''Ya gua gak ngebayangin aja kalau sampai suatu saat lu bakal makan tuh pare!''
''Gua akan makan pare kalau gua punya pacar nanti. Lu mau liat gua makan pare?'' Irama mengangguk. ''Nih rasain!'' kata Raden sambil mengolesi wajah Irama dengan saus kacang dari siomaynya.
''Ihhh jorok sih!'' kata Irama sambil menyeka wajahnya dengan sebelah tangannya.
''Hehehe maaf deh, nih...'' lanjut Raden menyeka wajah temannya itu dengan menggunakkan saputangan. Sesaat mereka saling bertatapan cukup lama, ketika tangan Raden menyentuh tangan Irama.
''Eh kok bengong?'' tanya Irama mengambil saputangan itu dan kembali membersihkan wajahnya.
''Ah... enggak kok, perasaan lu aja, gua tadi cuma ngebayangin kalau yang gua peperin itu susu!'' kata 
Raden sambil tertawa.
''Ah elu! Gua kan gak suka sama susu!''
''Tuh lu sendiri gak mau susu kan?''
''Gua akan minum susu kalau gua punya pacar juga nanti weeeee....'' katanya sambil menjulurkan lidah.
Semanis Susu, Sepahit Pare
Kembali kedua pelajar itu melanjutkan makan siang mereka sebelum menuju ke kelas masing-masing. Sebagai seorang teman sejak SMA, Raden dan Irama cukup akrab dan dekat. Orangtua Irama pun sudah sangat mengenal Raden, bahkan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga mereka. Irama pun menganggap Raden sebagai seorang kakak yang selalu menjaga dan menolongnya ketika dia mempunyai banyak masalah. Sebut saja mengerjakan tugas praktek kuliah, merangkum, dan hal-hal kecil yang sering dia lewatkan. Raden selalu hadir di manapun Irama berdiri. Bahkan 24 jam Raden hadir untuk Irama. Ke manapun Irama pergi, Raden akan mengantarkan. Bisa dikatakan, jika Irama bagaikan amplop surat, Raden adalah perangkonya. Tanpa Raden, mungkin Irama tidak bisa menjadi seperti sekarang.

Semua kesibukan dan jadwal padat Irama tidaklah menganggu Raden. Ia tulus dan ikhlas menolong temannya itu. Namun ada satu hal kecil yang mengusik hati Raden, yakni mengenai perasaannya kepada Irama. Sebenarnya Raden jatuh cinta dan mengagumi temannya itu sejak SMA. Belum cukup keberanian dia kumpulkan untuk mengutarakannya langsung pada tambatan hatinya. Raden takut bila cintanya ditolak, bahkan ia takut tidak dapat lagi berdekatan dengan Irama seperti sekarang ini. Maka selama lima tahun ini, dia terus membisu dan menahan perasaannya, meski perih baginya untuk menyimpan rapat-rapat kasih sayangnya untuk Irama.

Raden menyantap makan siangnya dengan cepat, tak lebih dari tiga menit piringnya sudah bersih, bahkan sampai ke saus kacangnya. Kemudian ia melihat jam tangannya dan berkata, ''Ooops! Udah waktunya gua pergi ke bengkel sekarang!''
''Cepat amat Den?'' tanya Irama yang masih menyantap suap demi suapan siomaynya.
''Hari ini gua praktek kelistrikan, lagipula asdos harus datang lebih awal toh?'' kata Raden sambil merapikan tas dan bukunya.
''Cieee tau deh yang asdos mah,'' kata Irama dengan nada menyindir.
''Ah daripada gua jadi anak bawang, ups keceplosan!'' balas Raden sambil mengacak-acak rambut Irama.
''Ihhhh! Awas ya lu!'' Raden segera pergi sambil melambaikan tangannya. ''Eh inget jam empat ya!''
Raden hanya mengangkat tangannya dan berlari menghilang dari kantin.
Sudah merupakan sebuah tradisi bagi mereka berdua untuk pulang bersama. Kebetulan Raden belum lama ini mencicil sebuah motor bekas, tentu ini memudahkan dan mempersingkat waktu baginya untuk mengantarkan Irama ke manapun dia mau. Setiap pagi jam lima, dan setiap sore jam empat, Raden sudah duduk di atas jok motornya dan menanti kedatangan Irama untuk diantarkan ke kampus atau rumahnya.

Sejak bangku SMA, Raden dikenal sebagai seorang yang dewasa dan mandiri. Ia sangat disiplin masalah waktu dan tegas dalam mengambil keputusan. Itulah yang membuat dirinya terpilih menjadi asisten dosen pada tahun keduanya duduk di bangku kuliah. Dia sigap dan cekatan, bahkan murah senyum. Hampir seluruh mahasiswi di kampus mengenalnya, termasuk senior dan juniornya. Senyum manisnya sulit dilupakan, itulah yang membuatnya disukai banyak orang. Belum lagi kebaikan hatinya, di mana dia selalu siap menolong siapapun yang membutuhkan bantuannya. Dia datang di kala susah, dan pergi di kala suka. Pemilik bulu mata lentik ini menjadi mahasiswa favorit di kalangan mahasiswi dan dosen-dosennya.

Bagi Raden, semua itu tidaklah penting. Dia hanya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dia menolong bukan untuk mencari muka, karena dia merasa sesama manusia harus saling membantu dan peduli satu sama lain. Namun, di balik keceriaan dan kebaikan dirinya, tersimpan rasa sedih yang mendalam. Karena dirinya belum mampu menyatakan perasaannya pada Irama. Ia berani berbicara dan tampil di depan khalayak umum mengenai pemikirannya, tetapi untuk Irama seorang ia tidak berani menyatakan perasaannya, bahkan untuk menatap kedua mata gadis pujaannya itu pun ia tidak bernyali.

Jam empat lewat lima belas menit, suasana di tempat parkir kampus semakin sepi. Raden seorang diri duduk di atas motornya, sambil memegang helm untuk Irama. Menanti penuh kecemasan, Raden yang juga menelepon Irama sejak tadi, semakin dibuat khawatir karena teleponnya tidak aktif. Jantungnya semakin berdegup kencang, ketika detik jam bergerak semakin cepat dan menjauh dari angka empat. Ia tetap menunggu di sana, walau di parkiran hanya dia seorang. Barulah Irama datang setelah jarum menit jam melewati angka lima. Langkahnya terburu-buru dan wajahnya dirundung rasa takut. Dia berlari mendekat ke motor Raden, dan ketika sampai dia mencoba mengatakan sesuatu dengan nafas terengap-engap.
''So.. sori.. sori Den...'' kata Irama dengan nafas yang masih tak beraturan.

Raden diam saja dan memberikan helm pada Irama.
''Den.. Den lu marah ya?''
''Enggak, udah ayo naik, entar lu dicariin sama bapak ibu lu.''
Irama segera mengenakan helm dan duduk di jok belakang, dengan menaruh tasnya di antara dia dan Raden. Tanpa membuang waktu, Raden segera tancap gas menuju rumah Irama yang memang berjarak tidak begitu jauh dari kampus.

Sepanjang perjalanan Raden diam tak bicara. Irama, yang diliput rasa bersalah, juga tidak berani berbicara padanya. Irama tahu bahwa Raden pasti marah karena keterlambatannya dan dia tidak mau membuat Raden lebih pusing lagi. Irama memutuskan akan berbicara pada Raden ketika mereka tiba di rumahnya. Irama hanya mencuri pandang dari kaca spion yang menampakkan wajah kaku Raden.

Setibanya di rumah, Irama segera turun dan memberikan helmnya pada Raden. Baru saja ia mau berbicara, Raden sudah menyalakan mesin motornya lagi.
''Gua cabut dulu ya?'' jawab Raden ketus.
''Iya... iya Den, tapi...''
''Hem?'' kata Raden menatap dari balik kaca helmnya. ''Apa?''
''Enggak... enggak apa-apa, hati-hati ya.''

Raden segera pergi dari sana meninggalkan tubuh kaku Irama yang menatap kepergiannya.
''Aku sms saja nanti deh,'' kata Irama dalam hati.

Cukup banyak curhatan hati yang Irama curahkan pada Raden. Sekalipun hal itu membuat Raden sedih, sebut saja kejadian beberapa tahun yang lalu di bangku SMA. Ketika Irama sedang bersusah hati karena cintanya ditolak oleh seorang siswa yang disukainya. Padahal baru beberapa bulan mereka dekat. Awalnya Raden tidak menyetujui kedekatan Irama dengan siswa itu, namun lama-kelamaan Raden berusaha menerima kenyataan yang pahit, bahwa Irama menyukai siswa itu. Akan tetapi kenyataan berkehendak lain, siswa itu menolak Irama. Dalam hati, Raden sungguhlah senang menyambut kembali pujaan hatinya, tetapi hati kecilnya menangis merasakan apa yang Irama rasakan. Dalam pelukannya, Irama menangis tersedu tanpa henti. Tanpa diketahui oleh Irama, Raden pun meneteskan air mata kepedihan. Air mata untuk orang yang disayangnya.
''Gua gak ngerti harus apa lagi Wi,'' kata Raden pada Dewi, seorang teman Irama lainnya. Dewi telah mengetahui perasaan Raden kepada Irama, dan sampai saat ini Raden selalu menceritakan suka dukanya bersama Irama kepada Dewi.
''Den, lu harus ngomong, be a gentleman!''
''Ngomong apa? Lu tau kalau Irama itu cuek, jutek bahkan gak pernah menganggap serius apapun yang gua omongin sama dia.''
''Lu harus terus berjuang Den! Ini bukan akhir dari segalanya, lagian banyak waktu buat lu ngomong sama dia kan?''
''Iya sih,'' jawab Raden perlahan.
''Tadi pagi lu jemput dia?''
Raden menggeleng.
''Duh harusnya lu tuh jemput dia! Jangan buat seorang cewek merasa bersalah! Terus lu udah sms dia?''

Raden kembali menggelengkan kepalanya.
''Duh Den Den... ribet nih masalah...''
''Sebenernya, dia duluan sms gua semalam, dia bilang dia minta maaf...''
''Minta maaf kenapa?'' tanya Dewi penasaran.
''Soal kemarin sore, dia telat hampir setengah jam, ya dalem hati sih gua kecewa...''
''Kenapa lu gak bales?''
''Dia selalu ngulang semua kesalahannya Wi! Kalau gua gak sayang dan care sama dia, udah lama gua pergi dari kehidupannya!''
''Terus, kenapa lu masih bertahan?''

Pertanyaan Dewi membuat Raden diam seribu bahasa. Sebenarnya dia bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Namun lidahnya kaku sesaat sebelum dia berkata-kata. Yang sebenarnya dia ingin ucapkan adalah bahwa dia masih tetap yakin, dan selalu yakin bahwa dia bisa membahagiakan Irama. Dia mampu hadir di setiap saat Irama membutuhkan dirinya, dia mampu menjaga perasaannya kepada Irama. Keyakinan itulah yang membuat Raden tetap memegang teguh prinsipnya.
''Jemput dia nanti,'' lanjut Dewi.
''Apa?''
''Lu budek ya? Jemmmmputtt diaaa nantiiii!'' teriak Dewi di sebelah telingaku.
''Hei hei santai!'' kataku mundur sambil memegang telingaku. ''Ini aset berharga milik gua.''
''Sudahlah Den, lu ngerti kan apa maksud gua? Cewek itu selalu menunggu cowok yang tepat dan berani memilihnya!'' kata Dewi lalu pergi dari sana.
''Cowok yang tepat?''

Segera setelah mendapatkan ''wangsit'' dari Dewi, Raden menunggu Irama di parkiran seperti biasanya. Raden pun sudah mengetikkan sms pada Irama yang berisi bahwa dirinya sudah menunggu Irama di parkiran. Mungkin sudah tiba saatnya, bagi Raden untuk menyatakkan perasaannya kepada Irama hari ini. Sebelum jam sepuluh tepat, dia akan menyampaikan perasaannya kepada Irama, dambaan hatinya.

Tetapi semua tidak berjalan sebagaimana mestinya, semua tidaklah semulus seperti yang diperhitungkannya. Raden diam terpaku melihat Irama yang berjalan ke arah parkiran dengan seorang pria di sebelahnya, seorang pria!
Mereka berpengangan tangan sambil menuruni tangga menuju parkiran. Pemandangan mengagetkan sekaligus memilukan bagi Raden. Dia tidak menyangka hal ini akan terjadi, di sore yang cerah baginya. Bukan hanya Raden yang kaget, Irama pun menyadari keberadaan Raden dan dirinya juga terkejut melihatnya.
''Raden?'' tanya Irama.
''Gua lihat lu udah ada temen pulang...''
''Den, sori ya, sebenernya dari kemarin gua mau bilang sama lu...''
''Soal apa?''
''Gua mau cerita sama lu kemarin malem, tapi lu gak bales sms gua.''
''Semalem gua udah tidur cepet Ma, gua yang harusnya minta maaf.''
''Gak apa-apa Den, tapi lu maafin gua kan?''

Berat bibirnya terbuka namun akhirnya ia berkata, ''Ya, santai aja Ma, lu kaya sama siapa aja.''
''Oke deh makasih Den,'' katanya kembali ceria. ''Oh ya kenalin, ini Dani, dia temenku.''
''Hai,'' jawab Dani dingin. ''Lu temennya Irama?''
''Ya,'' kata Raden menjawabnya.
''Irama udah cerita soal lu, oh ya Ir, duluan aja ke mobil, nanti gua nyusul.''
''Oh yaudah kalo gitu Dan,'' Irama segera melangkah ke arahku. ''Den, duluan ya, nanti malam Dani mau ajak gua ke warung siomay yang enak, lu mau ikut?''
''Gua ada tugas Ma, lain waktu aja,'' jawab Raden begitu karena melihat tatapan tajam dari Dani. Sesungguhnya ia khawatir pada Irama, terlebih dengan kedatangan Dani, seorang yang baru dikenalnya.
''Oke deh, hati-hati ya Den,'' jawab Irama berjalan ke arah mobil Dani.
''Lu juga,'' balas Raden.

Baru beberapa saat Irama masuk ke mobil, Dani menyusulnya namun dia sempat berkata pada Raden.
''Mulai saat ini, jauhi tangan dan kaki lu dari Irama, karena malem ini dia bakal jadi pacar gue!''
''So?'' tanya Raden.
''Gua gak mau kedekatan gua sama dia keganggu sama lu, atau siapapun!''
''Eh hati-hati kalau lu bicara,'' Kata Raden sambil memegang kerah jaket Dani. ''Irama itu wanita baik-baik, sampe lu buat dia nangis, bahkan sampai sedih aja, lu bakal nyesel!''
''Simpen anceman lu pengecut. Lu yang harus angkat kaki dari hidupnya kalo lu gak berani ngomong sama dia!''

Kalimat terakhir terus berdengung dalam telinga Raden. Matanya menatap kepergian Irama dalam mobil putih kecil yang membawanya menuju malam bahagianya. Sungguh tidak rela hatinya melepas kepergian Irama, bersama pria yang tidak jelas kepribadiannya.

Dalam hati ia terus bertanya, apakah Irama akan bahagia bersama pria itu? Apakah Irama akan menyesal di kemudian hari?
''Aku telah merasakan penyesalan sebelum ini, aku tidak ingin membuat Irama menyesal, hanya aku tidak berani mengungkapkan perasaanku,'' kata Raden dalam pikirannya. Segera setelahnya, Raden memutuskan untuk menyusul Irama dan Dani ke warung siomay di dekat sana, untuk memastikan bahwa Irama baik-baik saja.

Tepat setelah matahari terbenam dan rembulan menampakkan wajahnya, Raden sudah tiba di belakang warung itu. Warung itu memang cukup besar dan terkenal di daerah sana, sejak SMA pun Raden dan Irama sering makan di sana. Maka Raden sudah mengambil posisi di dekat parkiran, duduk dan menanti kedatangan Irama.
Tidak lama kemudian, berhentilah sebuah mobil putih di depan warung. Mobil putih yang sama persis dengan mobil Dani. Raden yang menyadarinya, segera mengamati dengan seksama. Turunlah Irama, dengan baju coklat yang kontras dan sederhana, bersama Dani. Diam-diam, Raden mengamati terus mereka hingga duduk di dalam.

Baru beberapa saat mereka duduk berdua, seorang wanita berjalan dengan cepat ke arah mereka dan segera menggebrak meja yang mereka tempati. Mereka berdua kaget dan segera berdiri. Dani, menarik tangan wanita itu, akan tetapi dia segera menampar wajah Dani. Dengan gelagapan, Dani mencoba menahan Irama juga, tetapi Irama segera berlari ke arah belakang. Raden yang telah siap, langsung mengejar Irama.
''Irama! Irama!'' teriak Raden mengerjar Irama, namun dia kehilangan jejaknya di tengah keramaian kota malam itu. Masih melirik di antara pejalan kaki dan kendaraan yang melintas, namun Raden tak dapat menjumpai Irama.
''Aku gagal,'' katanya tertunduk lesu sambil berjalan kembali ke arah warung tersebut. Raden duduk di bangku di teras luar; bangku di mana dia dan Irama selalu duduk ketika makan.
''Mau pesan apa mas?'' tanya seorang pramusaji.
''Tidak mba, nanti aja, saya lagi cari seseorang.''

Raden menyesal karena ia terlambat mengatakannya. Ia terlambat menyampaikan perasaannya kepada Irama. Ia bergumam sendiri ketika duduk di sana.
''Irama, andai kamu tau perasaanku yang sesungguhnya, betapa aku tulus kepadamu. Selama ini, aku hanyalah pria bayangan yang menyelimuti dirimu, tanpa bisa menyentuhmu tepat di hati. Oke, aku tau aku tidaklah tajir atau berwajah tampan, aku hanyalah pria sederhana yang menyayangimu dengan bijaksana... aku... ah andai kamu di sini...''
''Mas...?''
''Mba sudah kubilang...'' kata Raden mencoba berkata kepada pramusaji itu lagi bahwa dia ingin memesan nanti, akan tetapi alangkah kaget dirinya melihat bahwa yang berkata barusan bukanlah pramusaji dari warung itu, tetapi dia adalah Irama sendiri.
''Irama...??''
''Mas... benarkah apa yang semua lu katakan tadi Den?'' tanya Irama masih dengan mata berlinangan air mata.
''Gu.. gua bisa jelasin Ma, gua..''
''Stop,'' jari Irama menyentuh bibir Raden. ''Gua udah denger semuanya dari tadi, gua gak butuh penjelasan. Gua mau... lu ucapin apa yang lu ucapin tadi di depan gua langsung...''
''Tapi Ma...''
''Den... gua mohon...''
''Sejak pertama kali berjumpa, gua punya rasa sama lu. Semakin hari, semakin dalam, bahkan gua semakin kecanduan. Karena lu yang sederhana ini, membuat gua jatuh cinta. Gua sayang sama lu Ma, sejak dulu gua mau bilang ini...''
''Kenapa baru sekarang?'' tanya Irama sambil menangis.
''Karena gua gak berani... gua takut lu pergi...''
''Den, lihat mata gua...'' tangannya memegang wajah Raden dan mengarahkannya menatap kedua matanya. ''Gua juga sayang sama lu, coba dari dulu lu bilang...''
''Bener Ma?''
''Apa mata ini bohong Den? A... aku sayang sama kamu juga...''
''Makasih Ma!''

Langsung saja Raden memeluk tubuh Irama yang bergetar itu. Malam itu Irama yang sedih karena pengkhianatan, kembali bersuka karena pembuktian cinta. Temannya sendiri, yang selama ini setia bersamanya, Raden, akhirnya menyatakan cinta kepadanya. Air mata Irama turun membasahi kaos yang dikenakan Raden.
''Ma, gua eh aku gak akan mengecewakanmu.''
''Gua.. gua... maksudnya aku juga Den.''
''Kita akan terbiasa kok dengan aku-kamu,'' kata Raden tersenyum.
''Iya Den, aku gak menyangka bahwa selama ini seorang yang begitu dekat dan setia bersamaku sebagai seorang teman, selama lima tahun ini berubah menjadi seorang pacar dalam waktu satu malam...''
''Aku... juga masih tak percaya Ma.''
''Iya Raden, terimakasih,'' jawab Irama tersenyum. ''Makan yuk, aku lapar nih.''
''Baiklah, nih seka air matamu,'' kata Raden memberikan sebuah saputangan pada Irama sementara pramusaji tadi datang dan mencatat pesanan mereka.
''Siomay dan tahu tanpa pare, minumnya susu hangat ya, kamu Ma?''
''Aku pesan siomay pakai pare, dan teh hangat saja mba... kok kamu enggak pake pare Den?''
''Kan kamu tau aku gak su...''
Baru saja Raden mau berkata, jari Irama menahan lagi. ''Ingat janjimu soal makan pare?''
Raden mengangguk. ''Kamu sendiri tidak pesan susu, lupa ya sama apa yang kamu bilang?''

Wajah Irama memerah dan menjadi malu. ''Ihhh kamu mah...''
''Mari, kita tepati janji kita bersama...''
Kemudian Raden memesan pare dan Irama juga ikut memesan segelas susu baginya.

Sebelum saling menyantap mereka saling berpandangan dan melihat sepiring pare dan segelas susu di hadapan mereka.
''Siap?'' tanya Raden.
''I... iya...'' jawab Irama.

Raden menyuapi segelas susu ke mulut Irama sementara Irama memberikan sepotong pare kepada Raden. Terlihat mereka menahan mual yang berat namun akhirnya mereka bisa menelannya.
''Susu enak kan?''
''Apanya? Pare enak tuh!''

Lalu mereka saling menyuapi kembali, segelas susu dan sepiring pare yang tidak enak bagi mereka.
''Ma, aku belajar sesuatu...'' kata Raden sambil disuapi.
''Apa Den?''
''Cinta kita semanis susu dan sepahit pare, karena walaupun kita tidak saling menyukainya, kita akan tetap merasakannya bersama-sama. Biarlah pare dan susu ini menjadi saksi atas cinta kita.''
''Wooo apasih kamuuu,'' kata Irama menyodori pare kembali ke mulut Raden.

PROFIL PENULIS
Nama: Rafael Stefan Lawalata
Facebook: Rafael Stefan Lawalata
"Jadi bos itu butuh perhitungan, bukan sekedar itung-itungan!"
Penulis pemula dan muda namun berpengalaman.

Cukup Sekian dulu pembaca sekalian, Nantikan Post untuk cerpen selanjutnya! :D

MENULIS NOVEL ATAU CERPEN?

short story

Apakah anda ingin menjadi seorang penulis fiksi? Jika jawaban anda Ya maka anda akan dihadapkan lagi pada persoalan: Jenis tulisan apa yang anda tulis: Cerpen atau Novel? Hanya anda yang dapat menjawab pertanyaan ini. Tetapi di artikel ini saya mencoba memberikan sumbangan pemikiran.
Sebenarnya apa sih yang disebut Cerpen atau Novel?  Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara pasti. Masing-masing penulis, penerbit, atau majalah-majalah penerima tulisan tidak mempunyai kata sepakat. Namun jika diamati satu persatu, dapat ditarik suatu kesamaan. Yang jelas Cerpen, sesuai dengan namanya: Cerita Pendek, selalu lebih pendek dari Novel. Jika Cerpen selalu dapat disajikan pada media buku, maka Novel selalu dalam bentuk buku.
Ditilik dari syarat-syarat cerpen di majalah-majalah, sebuah Cerpen biasanya terdiri dari empat belas ribu kata, sementara novel terpendek sekitar tiga puluh ribu kata sampai tak terbatas. Lantas bagaimana dengan novelet? Ya, di beberapa majalah yang memuat cerita, kadang dijumpai istilah Novelet. Saya sendiri biasanya mendefinisikan novelet sebagai cerita bersambung (yang biasanya dimuat di beberapa kali terbitan) yang dimuat pada sekali terbitan, meskipun bisa saja novel dibuat jadi cerita bersambung. Panjang novelet diantara Cerpen dan Novel, antara 30 ribu kata sampai 40 ribu
Nah setelah anda memahami panjang tulisan Cerpen dan Novel, sekarang, mana yang anda pilih? Menulis Novel atau Cerpen? Apapun yang anda pilih bukan masalah benar atau salah, itu hak anda. Namun saya pribadi mempunyai beberapa titik pemikiran sebagai berikut:
  1. Menulis Adalah Ketrampilan
    Layaknya sebuah ketrampilan, menulis perlu dilatih. Latihan tidak dapat hanya sekali tetapi berkali-kali. Dengan menulis berbagai karakter, berbagai genre, berbagai dialog dalam variasi cerita di tiap penulisan. Melihat kenyataan ini, maka menulis cerpen adalah permulaan yang bagus. Cerpen dapat lebih cepat diselesaikan, sehingga dalam satu bulan kita dapat berlatih menulis berbagai obyek yang berbeda-beda. Ini beda sekali dengan novel yang mungki per Novel dapat kita tulis selama tiga bulan, sehingga selama itu kita hanya berkutat dengan obyek cerita yang sama
  2. Biasakan Menyelesaikan Apa yang Kita Mulai
    Menulis cerita yang panjang seperti novel membutuhkan energi yang besar. Ketidakpunyaan energi ini menyebabkan kita berhenti di tengah jalan. Jika kita biasa berhenti di tengah jalan, ini akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang buruk. Sehingga dengan demikian memilih untuk menulis cerpen adalah pilihan yang baik
  3. Semakin Banyak Bukti Karya Semakin Memperkuat Keinginan
    Jika kita selalu berhenti di tengah jalan, maka kita akan mempunyai pikiran bahwa kita tidak mampu. Ini pemikiran yang membunuh. Sebaliknya, mengetahui bahwa kita mempunyai beberapa karya akan memperkuat kenyakinan bahwa kita mampu. Maka sebaiknya pilihlan cerpen sebagai karya tulis anda, sampai anda siap menulis yang lebih panjang dengan media novel
Hasil akhir dari keputusan: Novel atau Cerpen memang pada akhirnya terserah anda. Apapun jenis tulisan fiksi yang anda sukai, selama anda meniknmatinya, tidak masalah untuk anda lakukan.

KIAT-KIAT MENULIS CERPEN

short storyMenulis cerpen itu gampang-gampang susah. Dibilang gampang karena jumlah kata-kata dalam tulisan tidak sepanjang novel, dibilang susah karena justru dengan sedikitnya batasan jumlah kata, maka kita harus efektif menggunakan segala sumber daya. Sedikit kata tapi padat, inilah kira-kira semboyan cerpen.

Berikut ini sedikit kiat-kiat/tips dan trik dalam menulis cerpen. Cara-cara tersebut saya pakai dalam membuat cerpen-cerpen saya.
  1. Batasi jumlah figur dalam cerpen
    Anda harus dapat membuat pembaca dapat berimajinasi dengan cerita anda. Agar mereka dapat berimajinasi, maka anda harus menuliskan bahan-bahan agar mereka dapat berimajinasi.Agar dapat membayangkan tokoh dalam cerpen:
    -gambarkan bentuk wajah, emosi, potongan baju, dan lain-lainAgar dapat membayangkan lingkungan dalam cerpen:
    -ceritakan bentuk rumah, hawa:Panas karena mentari, dingin karena hujan? Dan lain-lainTentu, semakin banyak tokoh, akan semakin banyak penggambaran. Sehingga batasi jumlah figur dalam cerpen
  2. Kuatkan cerita di bagian pertama cerita dan akhir ceritaMemperkuat cerita di awal diperlukan agar pembaca mau terus membaca cerita anda. Memperkuat cerita di akhir cerita agar pembaca tetap terbayang-bayang dengan cerita anda.

  3. Gunakan plot sederhana dan Pusatkan masalah hanya pada satu masalah saja
    Karena anda dibatasi dengan jumlah halaman. Maka anda harus membatasi plot agar tidak terlalu komplek, sehingga penyelesaiannya butuh berlembar-lembar kertas. Saya pribadi lebih banyak menggunakan plot sebagi berikut:Pembukaan –> Masalah –> Mulai Mengatasi Masalah –> Masalah Memuncak/Klimak – Penyelesaian Masalah
Apa yang sudah saya tulis diatas bukan harga mati. Mungkin anda mempunyai formula lain? Silakan berbagi dengan saya.

Desain Kolam Ikan di Depan Rumah Minimalis

Selamat bertemu kembali sahabat pecinta rumah minimalis yang mudah mudahan selalu dalam lindungan tuhan yang maha esa, kali ini admin mau me...