Tampilkan postingan dengan label Puisi Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Sedih. Tampilkan semua postingan

Air Mata Hati

Air mata hati seperti belati
Dalam sekejap menyelimuti
Dia menetes tak henti
Dia gelap penuh misteri
Menyakiti hingga nanti
Sangat pilu, hilang semua sakti
Entah apa terjadi
Tak usah lisan bertanya lagi
Beritanya telah hilang sebuah puisi
Seperti ribuan bunga telah mati
Bulan sabit telah terkuliti
Juga tenggelam bunga teratai


Air mata hati itu penuh
Begitu tak merdu
Hanya menampung sendu
Di ikatan jerit dan keluh
Tak usah ada yang berpadu
Jika malam, padanya aku mengadu
Bintang kehilangan dan menjenuh
Langit menjadi gagu
Awan-awan ikut membisu
Rasa sakit jutaan berlabuh
Satu dua tiga hingga beribu-ribu
Hati pun membatu


Air mata hati itu salah
Namun apalah daya
Jika lisan pun terbata
Mengatakan nya pun tak ada kata
Semua kini tinggallah hanya
Dan beradu menjadi entah
Lalu apa?
Tak usah banyak tanya
Tiap malam susah menutup mata
Karena takut pada semua rasa
Yang menggila
Di gelapnya fantasi pujangga
Tentang dunia dan surga
Entah apakah karpet merah
Telah menyambut di neraka
Ah, Sudahlah, Percuma!


SHA, Akhir Tahun 2015
Pembaringan Hujan.


Panggil Aku Sakit Hati

Aku tau sampai dimana cinta itu
Hanya pada batas gugur bunga-bunga

Dan kau juga bunga
Sembunyi di bawah pancuran taman
Mari! Sini menari dengan kumbang
Atau kau memilih bermesra bayang-bayang?

Bunga itu seperti apa?
Bagiku seperti nama terpahat di pohon
Pada pinggiran taman
Tepat sebelah pancuran
Yang airnya merembes jua meluap-luap

Aku tau cinta itu rindu
Mereka bersama-sama
Seperti sepasang kekasih bersantai
Pada bangku taman di bawah pohon
Tak jauh dari pancuran

Taukah kau taman itu apa?
Bagiku adalah hati bercampur
Lebur pada rasa tak terukur

Taukah kau aku ini apa?
Aku ialah yang berlalu lalang
Di antara pancuran, pohon, dan juga bangku taman
Di depan, belakang menyaksikan cinta mekar

Cemburu adalah nama kecilku
Ayah memanggil aku kecewa
Ibu memanggil aku pilu
Namun sebenarnya
Sakit ialah nama depanku
Dan hati adalah nama belakangku
Kawan-kawan memanggil aku sakit hati.

Penulis: SHA
08/10/2015
Pondok Buangan, Perantauan.

Ini Rindu

Hujan pagi ini merampas pesona
tiada arah langkah menapak
terhimpit sempit sebuah realita
mungkin telah sampai saatnya
ketika tetesannya bagai batu yang menghujam
sangat cepat dan menitipkan luka

Dan ini adalah sebuah rindu
jika saja kau bertanya

Namun ini bukan kesedihan
jika saja kau mengira

Kita tau bagaimana pelangi itu
seperti simfoni yang merdu

Kita tau rasanya rindu
seperti pelangi yang bening
dan simfoni yang bisu

Andai kini aku menggenggam seikat bunga
akan kutata rapi kelopak demi kelopak
kupercikkan tetesan hujan di tangkai-tangkainya
lalu.... Kuremukkan hingga tak bersisa

Dan kukatakan padamu, ini rindu
sebatas fana, yang menerobos luapan keruh
setiap kalimat ialah untukmu
dariku.. dari aku

Dan kau mengajakku bernostalgila
dengan segala kisah dan asa
sembari mendengarkan suara tanpa irama
biarkan jari jemari kita berdansa
hingga lelah dan kehilangan cinta.

Lalu pucuk angan tuk jumpa
seperti teratai di gurun sahara
yang menyenandungkan teriaknya

lalu,

Biarkan saja
ketidaksengajaan mempertemukan kita

Entah dimana
entah bagaimana.



Makassar, 06/01/2015, SHA

Desain Kolam Ikan di Depan Rumah Minimalis

Selamat bertemu kembali sahabat pecinta rumah minimalis yang mudah mudahan selalu dalam lindungan tuhan yang maha esa, kali ini admin mau me...