Tampilkan postingan dengan label Puisi bahagia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi bahagia. Tampilkan semua postingan

PUISI: Pemilik Bunga (Dia Khaeriyah)

PEMILIK BUNGA (DIA KHAERIYAH)

Oleh: Saiful Haqqi Annur (SHA)

Sebut saja bunga-bunga sedang menari
Sebut saja bahagia telah pasti
Antara rindu dan rasa yang melambai
Mawar sedang berpuisi

Pemilik bunga-bunga ini
Dia sedang bernyanyi
Bersama sakura juga melati
Berdansa di ujung tangkai

Dia Khaeriyah
Sang pengukir kisah
Pelantun bahasa merdu si dahlia
Yang dirindui mawar talitha

Pemilik taman bunga
Di antara kastil selcuk dan Hagia Sophia
Kumbang dan kupu-kupu, sudahlah
Jangan buat cemburu mawar shananda

Pemilik bunga, khaeriyah
Bersama mawar pertiwi
Dan mawar penggoda fortuna
Di jalan-jalan Turky.
Makassar, Kedai Kopi
06 Januari 2016

Kunjungi Facebook Saya Iful Jc L Gang

PUISI: Perempuan Penyair (Dia Suci)

Perempuan Penyair (Dia Suci)

Oleh: Saiful Haqqi Annur (SHA)

Dia adalah suci
Perempuan penyair penyayat kata
Pemilik bunga-bunga pada mekarnya
Pada indah dan layunya

Mungkin, dia adalah suci
Hingga pena begitu ringan menarikannya
Sampai mata sayu ia buatnya
Begitulah, si perempuan perajut rasa

Sudah pasti, dia pastilah suci
Karena mata dan hati tak pernah berdusta
Dia berkata begini, apa adanya
Pangeran dan kesatria, semua jatuh cinta

Dan bagiku, memang dia suci
Karena syair sudah bicara
Dia meminta puisi atau prosa
Maka kuberikan dia pusaka

Aku terpesoa, dia itu suci
Hatiku menjadi lemah
Syairku gagap terbata
Dia rampas habis semua bahasa.

Kedai Kopi, Makassar
05 Januari 2016

Penulis: Saiful Haqqi Annur (SHA), bisa dihubungi melalui facebook Saiful SHA

Lingkar Rindu


Adinda, serak-serak waktuku menipis dalam lingkaran yang mungkin tersusun kata rindu
Untuk kuucap kala hidupmu dicumbui jingga yang tersanggah di antara dua senja
Menikmati teguk hamar dari sari segala lisan, yang kau titahkan untuk keringnya pusaran rasaku
Untuk hambarnya rerumputanku, dikala terbelai oleh yang tenggelam di ufuk barat.

Adinda, raga hunianku coba berkata-kata, menusuk kalimat untuk madu yang tak berasa
Yang tak diraba oleh lebah, walau yang terpatah sayap-sayapnya
Sampai menghilang kering di antara susunan batu bata, atau di bunga yang layu tanpa diterka
Bahkan pada bumi yang kian tersiksa dan menggempa, dan mungkin tak sudi ditatap oleh brahmana.

Adinda, jika nanti kau mencoba menjaring segala mentari, ikutkan aku dalam senandung kala kau menari
Biar ucap ragamu jadi tabib yang senantiasa mengikatku dalam lingkar rindu, walau kadang itu hanya harapan mati
Untukmu adinda, rela pula aku tak terberi, dan menangis hitam menghayati perih
Jangan kau berlari, atau aku layang dalam angan yang lama mengekang bagai penjara para penyair.

Adinda, pahami kata dari lorongmu yang tak terputus dan dari matamu yang tak terbuta
Agar rinduku tidak mati dalam puisi yang sia-sia.

Makassar, 09/01/2013
01:27 PM/SHA

Desain Kolam Ikan di Depan Rumah Minimalis

Selamat bertemu kembali sahabat pecinta rumah minimalis yang mudah mudahan selalu dalam lindungan tuhan yang maha esa, kali ini admin mau me...