TULISAN: BIAR KUKATAKAN PADAMU (DIA SHA)

Biar Kukatakan Padamu (Dia  SHA)

Oleh: Saiful Haqqi Annur (SHA)

Ada sebuah lembah hijau, tumbuh dahlia di pinggirannya, terselip beberapa mawar pada semaknya, juga matahari cerah seperti lampu sorot yang begitu pilih kasih.
Di lembah itu tumbuh satu pohon apel, tepat di tengah, buahnya manis juga harum, membuat lebah dan kupu-kupu mabuk hanya dengan menyentuhnya, di bawah pohon itu, tumbuh semak belukar berduri, juga bunga matahari yang kelopaknya begitu lembut, seperti angin musim semi gunung fuji.
Seratus tahun atau mungkin lebih, hanya jatuh dua apel, apel pertama jatuh tepat pada semak-semak, terluka duri seluruh merahnya, tersembunyi gelap pada bayangan agung pohon asalnya, dipermalukan oleh belukar sembari dicuri semua mataharinya, lima puluh tahun semenjak apel pertama, jatuh pula apel kedua, tepat di tengah bunga-bunga, dibasuh lembut sari-sari keindahan.

Entah cerita menyatu di mana, ada sekelompok anjing liar, bermain dilembah, satu anjing pincang yang tak dapat mengejar kawan-kawannya, tersandung pula pada semak belukar di bawah pohon apel, dengan wajah terluka penuh duri, matanya berkedip dan melihat apel yang juga tergores merahnya. Langsung saja, dia gigitnya apel itu, dia bawa berlari namun tak dia lahap, apel itu tetap berada di rahang kiri, entah berapa tahun berlalu.
Anjing pincang, dia mencoba mengejar kawan-kawannya, dia melihat, mendengar, juga melolong dengan amat kerasnya, hingga bulan begitu iba, anjing itu menyerah, dia telah banyak melihat, mendengarkan, membaca alam dan melolong mencaci maki banyak hal, dia tertidur begitu lelapnya, begitu tenangnya, tak seekor nyamuk pun berani merabanya, keesokan harinya terbangun, dan entah mengapa anjing menjadi Serigala, taring panjang, kaki kekar dan mata menyayat siapapun bagi yang berani menatapnya.

Serigala dengan apel pada mulutnya, berlari mengitari padang salju, gelap, ganas, penuh jeritan dosa jua penderitaan. Serigala membangun kelompoknya, beberapa serigala dengan tatapan hampa mengikutinya. Serigala melawan raja, meski bingung untuk apa. Karena lelah, serigala berbaring di rumput, hijau dan mengkilap, namun ujungnya bagai pisau tajam yang ditempa pengrajin ahli. Serigala berfikir, terus berfikir, tentang bunga, padang, lembah, matahari, bulan dan entah apa lagi. Dia putuskan untuk menutup matanya, masuk dalam kegelapan pikirannya, menampar semua rasa pada hatinya yang berlubang.

Keesokannya, serigala terbangun, dan entah mengapa, dia menjadi manusia. Serigala lain yang awalnya mengikutinya, satu per satu menggigit, menyayat, mencakar dan meninggalkannya. Dengan apel di mulutnya, dan luka di sekujur tubuhnya, serigala berjalan, menyeret satu kakinya. Menuju lembah tempat dia kehilangan kawan dan menemukan apelnya, satu dua langkah, tapak demi tapak, dengan kaki terluka, bernanah, berdarah dan penuh noda kulitnya dia terus berjalan, memungut emas, berlian, juga perak di pinggiran jalan. Sesampainya di lembah, rumput hijau telah gersang, hanya tanah keras penuh retakan, mawar-mawar habis dan tinggal saja ranting kering, dahlia yang tersisa menangis penuh haru, dan pohon apel masih berdiri walau daunnya satu per satu jatuh ketanah kering.

Dan entah karena apa, dia letakkan apel penuh luka kembali ke semak belukar, bersama emas, berlian dan perak yang dia temukan. Dia lepas matanya, semua jarinya sampai tangannya, dia ingin berlari seringan mungkin, setelah tangan, mata dan mulutnya dia lepaskan, dia akhirnya berjalan dengan cepat, semakin cepat, sangat cepat hingga berlari, dia berlari dengan cepat, sangat cepat lalu berhenti, dia berhenti karena terganggu dan sangat tersakiti dengan suara sedih, menjerit, menangis yang ada di dalam kepalanya, dia ambillah batu, runcing dan terlihat tajam, dia hantamkan kepalanya hingga terbuka sebuah luka, dengan tertawa, tawa yang menyengat telinga dan membuat layu semua bunga, dia lepaskan semua pikir, dan ia lanjutkan larinya...... .... ..... ..... terus hingga terhenti pada jurang.

Dia merasakan semua, apel, anjing, serigala, sayatan, bulan, semak, duri, bunga dan matahari. 
Dia tatap kebawah jurang, dia melihat dengan senyum, wajah yang kosong, kepala yang tak memikirkan apa-apa, hanya kesedihan dan luka pada sekujur tubuhnya, lalu, dengan semua kesakitan itu, dia....

SHA, Kastil Depresi, 08 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desain Kolam Ikan di Depan Rumah Minimalis

Selamat bertemu kembali sahabat pecinta rumah minimalis yang mudah mudahan selalu dalam lindungan tuhan yang maha esa, kali ini admin mau me...