Tampilkan postingan dengan label cara menulis cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cara menulis cerpen. Tampilkan semua postingan

ARTIKEL: Licentia Poetica - Aspek Tata Bahasa Dalam Sajak

LICENTIA POETICA – ASPEK TATA BAHASA DALAM SAJAK

Licentia poetica atau poetic license (Ing.) diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi kebebasan sastrawan, terutama penyair. Kebebasan itu diartikan sebagai sesuatu kebebasan yang diberikan kepada sastrawan untuk memanipulasi penggunaan bahasa untuk menimbulkan efek tertentu dalam karyanya. Contohnya dalam menciptakan anakronisme, sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan  anakronisme, sastrawan melukiskan sesuatu seolah-olah memang pernah terjadi, padahal kalau dilihat melalui sejarah, sesuatu itu tidak ada. Namun kebebasan sastrawan tidak hanya dalam bentuk anakronisme. Kebebasan mereka sampai kepada penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa.
Pada  dasarnya, sajak tetap  mematuhi kaidah tata bahasa karena media sajak adalah bahasa. Sebuah pemikiran atau pengalaman dalam  sajak tidak akan menjadi sesuatu yang utuh tanpa struktur bahasa yang tepat. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, penyair sering melanggar kaidah atau struktur bahasa tersebut.
Sekurang-kurangnya ada tiga alasan yang memungkinkan pelanggaran kaidah bahasa terjadi dalam sajak. Pertama, karena penyair menyampaikan pengalaman puitiknya. Pengalaman puitik lebih banyak berhubungan dengan emosi, intuisi, dan intelek daripada rasio, ilmu, dan ilmiah. Emosi dan intuisi adalah dunia bawah  sadar, seperti juga sajak. Sajak adalah pemunculan kembali dunia bawah sadar. Pengalaman puitik yang melandasinya biasanya muncul sekilas-kilas, maka penyair mengucapkannya dalam bentuk penggalan-penggalan pula. Oleh karena  itu, waktu mengucapkannya terciptalah komposisi bahasa yang hanya mementingkan unsur-unsur yang sangat diperlukan, gatra-gatra yang  terpisah-pisah, sehingga kelihatan tidak menghiraukan kaidah bahasa. Dikatakan kelihatan, karena penampilannya saja yang tidak menghiraukan kaidah bahasa, padahal sebenarnya unsur yang tidak mematuhi kaidah bahasa itu dapat dikembalikan kepada pengucapan yang sesuai dengan kaidah bahasa. Perhatikan susunan bahasa sajak Sutardji yang berjudul Amuk dibawah ini.
(56)  tubuh tak habis ditelan laut tak habis dimatahari
      luka tak habis dikoyak duka tak habis digelak
      langit tak habis dijejak burung tak habis di
      kepak erang tak sampai sudah malam tak sampai
      gapai itulah aku
 
      (Bachri,1981:74)
Sebenarnya pengucapan sajak diatas berasal dari:
a. Tubuh tak habis ditelan laut.
b. Laut tak habis di matahari.
c. Luka tak habis dikoyak duka.
d. Duka tak habis digelak langit.
e. Langit tak habis dijejak burung.
f.  Burung tak habis dikepak orang.
g. Erang tak sampai.
h. Tak sampai sudah malam.
i.  Malam tak sampai menggapai.
j.  Gapai itulah aku.
k. Itulah aku.
Kalimat a sampai k adalah kalimat-kalimat yang mematuhi kaidah bahasa. Akan tetapi, karena Sutardji mengucapkannya dalam bentuk sajak maka ia mengucapkannya tanpa – kelihatannya – mematuhi  kaidah bahasa.. Dan inilah alasan kedua, yaitu pengucapan sajak pendek daripada pengucapan non-sajak  dengan menghilangkan berbagai unsur yang menurut penyair mengganggu pengucapan puitik – penyulapan dan pengasingan.
Ketiga, kepiawaian penyair itu sendiri. Sastrawan adalah orang yang menguasai bahasa ‘author + ity’. Sastrawan adalah orang yang mampu memanipulasi penggunaan bahasa untuk tujuan tertentu. Kalau ia bukan penguasa bahasa, tak mungkin ia  mampu memanipulasi bahasa untuk menghasilkan efek tertentu dalam sajaknya (Atmazaki,1988:41-2).
Walaupun diberikan kebebasan dalam menggunakan bahasa, penyair  tetap terbatas. Pelanggaran  tata bahasa hanya mungkin dilakukan kalau masih mungkin dikembalikan kepada struktur bahasa yang benar. Dengan kata lain, kalau pelanggaran itu  dapat disemantikkan. Jadi, kebebasan sastrawan adalah kebebasan terikat; kebebasan yang tidak sampai kepada taraf anarkisme: kebebasan tanpa tanggung jawab.
Image result for penulis
referensi
Judul buku: Analisis Sajak. Teori, Metodologi dan Aplikasi
Pengarang: Drs. Atmazaki
Penerbit: ANGKASA, Bandung. 1993

MENULIS NOVEL ATAU CERPEN?

short story

Apakah anda ingin menjadi seorang penulis fiksi? Jika jawaban anda Ya maka anda akan dihadapkan lagi pada persoalan: Jenis tulisan apa yang anda tulis: Cerpen atau Novel? Hanya anda yang dapat menjawab pertanyaan ini. Tetapi di artikel ini saya mencoba memberikan sumbangan pemikiran.
Sebenarnya apa sih yang disebut Cerpen atau Novel?  Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara pasti. Masing-masing penulis, penerbit, atau majalah-majalah penerima tulisan tidak mempunyai kata sepakat. Namun jika diamati satu persatu, dapat ditarik suatu kesamaan. Yang jelas Cerpen, sesuai dengan namanya: Cerita Pendek, selalu lebih pendek dari Novel. Jika Cerpen selalu dapat disajikan pada media buku, maka Novel selalu dalam bentuk buku.
Ditilik dari syarat-syarat cerpen di majalah-majalah, sebuah Cerpen biasanya terdiri dari empat belas ribu kata, sementara novel terpendek sekitar tiga puluh ribu kata sampai tak terbatas. Lantas bagaimana dengan novelet? Ya, di beberapa majalah yang memuat cerita, kadang dijumpai istilah Novelet. Saya sendiri biasanya mendefinisikan novelet sebagai cerita bersambung (yang biasanya dimuat di beberapa kali terbitan) yang dimuat pada sekali terbitan, meskipun bisa saja novel dibuat jadi cerita bersambung. Panjang novelet diantara Cerpen dan Novel, antara 30 ribu kata sampai 40 ribu
Nah setelah anda memahami panjang tulisan Cerpen dan Novel, sekarang, mana yang anda pilih? Menulis Novel atau Cerpen? Apapun yang anda pilih bukan masalah benar atau salah, itu hak anda. Namun saya pribadi mempunyai beberapa titik pemikiran sebagai berikut:
  1. Menulis Adalah Ketrampilan
    Layaknya sebuah ketrampilan, menulis perlu dilatih. Latihan tidak dapat hanya sekali tetapi berkali-kali. Dengan menulis berbagai karakter, berbagai genre, berbagai dialog dalam variasi cerita di tiap penulisan. Melihat kenyataan ini, maka menulis cerpen adalah permulaan yang bagus. Cerpen dapat lebih cepat diselesaikan, sehingga dalam satu bulan kita dapat berlatih menulis berbagai obyek yang berbeda-beda. Ini beda sekali dengan novel yang mungki per Novel dapat kita tulis selama tiga bulan, sehingga selama itu kita hanya berkutat dengan obyek cerita yang sama
  2. Biasakan Menyelesaikan Apa yang Kita Mulai
    Menulis cerita yang panjang seperti novel membutuhkan energi yang besar. Ketidakpunyaan energi ini menyebabkan kita berhenti di tengah jalan. Jika kita biasa berhenti di tengah jalan, ini akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang buruk. Sehingga dengan demikian memilih untuk menulis cerpen adalah pilihan yang baik
  3. Semakin Banyak Bukti Karya Semakin Memperkuat Keinginan
    Jika kita selalu berhenti di tengah jalan, maka kita akan mempunyai pikiran bahwa kita tidak mampu. Ini pemikiran yang membunuh. Sebaliknya, mengetahui bahwa kita mempunyai beberapa karya akan memperkuat kenyakinan bahwa kita mampu. Maka sebaiknya pilihlan cerpen sebagai karya tulis anda, sampai anda siap menulis yang lebih panjang dengan media novel
Hasil akhir dari keputusan: Novel atau Cerpen memang pada akhirnya terserah anda. Apapun jenis tulisan fiksi yang anda sukai, selama anda meniknmatinya, tidak masalah untuk anda lakukan.

KIAT-KIAT MENULIS CERPEN

short storyMenulis cerpen itu gampang-gampang susah. Dibilang gampang karena jumlah kata-kata dalam tulisan tidak sepanjang novel, dibilang susah karena justru dengan sedikitnya batasan jumlah kata, maka kita harus efektif menggunakan segala sumber daya. Sedikit kata tapi padat, inilah kira-kira semboyan cerpen.

Berikut ini sedikit kiat-kiat/tips dan trik dalam menulis cerpen. Cara-cara tersebut saya pakai dalam membuat cerpen-cerpen saya.
  1. Batasi jumlah figur dalam cerpen
    Anda harus dapat membuat pembaca dapat berimajinasi dengan cerita anda. Agar mereka dapat berimajinasi, maka anda harus menuliskan bahan-bahan agar mereka dapat berimajinasi.Agar dapat membayangkan tokoh dalam cerpen:
    -gambarkan bentuk wajah, emosi, potongan baju, dan lain-lainAgar dapat membayangkan lingkungan dalam cerpen:
    -ceritakan bentuk rumah, hawa:Panas karena mentari, dingin karena hujan? Dan lain-lainTentu, semakin banyak tokoh, akan semakin banyak penggambaran. Sehingga batasi jumlah figur dalam cerpen
  2. Kuatkan cerita di bagian pertama cerita dan akhir ceritaMemperkuat cerita di awal diperlukan agar pembaca mau terus membaca cerita anda. Memperkuat cerita di akhir cerita agar pembaca tetap terbayang-bayang dengan cerita anda.

  3. Gunakan plot sederhana dan Pusatkan masalah hanya pada satu masalah saja
    Karena anda dibatasi dengan jumlah halaman. Maka anda harus membatasi plot agar tidak terlalu komplek, sehingga penyelesaiannya butuh berlembar-lembar kertas. Saya pribadi lebih banyak menggunakan plot sebagi berikut:Pembukaan –> Masalah –> Mulai Mengatasi Masalah –> Masalah Memuncak/Klimak – Penyelesaian Masalah
Apa yang sudah saya tulis diatas bukan harga mati. Mungkin anda mempunyai formula lain? Silakan berbagi dengan saya.

Desain Kolam Ikan di Depan Rumah Minimalis

Selamat bertemu kembali sahabat pecinta rumah minimalis yang mudah mudahan selalu dalam lindungan tuhan yang maha esa, kali ini admin mau me...