Tampilkan postingan dengan label jenis pembaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jenis pembaca. Tampilkan semua postingan

CARA MEMBUAT RESENSI CERITA FIKSI

Banyak situs di internet menyajikan banyak cara dalam membuat resensi buku fiksi. Satu sama lain terkadang menyajikan filosofi dan cara yang berbeda-beda. Bagi saya, resensi bukan alat untuk menjatuhkan penulis.

Saya gemar membuat resensi justru untuk mengkritisi karya fiksi saya pribadi. Jika saya mengagumi gaya tulis seorang penulis, maka itu sama saja dengan mengakui kelemahan saya dan mulai belajar untuk menjadi lebih baik. Sebaliknya, akan saya anggap sebagai rambu agar saya tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Saya memakai poin-poin berikut ini dalam membuat sebuah resensi fiksi.
1. Respon
Ketika saya selesai membaca sebuah karya fiksi. Saya selalu melihat pada diri saya sendiri. Bagaimana perasaan saya saat selesai membaca sebuah cerita? Ingin kelanjutannya? Apakah saya merasakan ketegangan, rasa romantika, ketakutan atau yang lain? Apakah seakan-akan saya menghadapi tokoh nyata, bukan sekedar fiksi? Adakah hal yang membuat saya tidak puas? Merasa janggal ataukah tidak puas?
2. Tema
Cerita di dalam dunia ini memang banyak, tetapi hanya jenis-jenis cerita tertentu yang disentuh oleh penulis. “Hal-hal” demikian diketahui benar oleh penulis, sehingga kebanyakan mereka menyentuh “hal-hal” yang sama (terutama penulis novel populer). Saya pribadi tak mempermasalahkan perulangan tema. Saya tak mengidolakan tema tertentu. Coba Anda lihat, berapa banyak cerita yang memakai tema-tema seputar goblin, peri, zombi, atau kurcaci. Mengamati seberapa besar tema dikembangkan dalam sebuah cerita adalah lebih penting. Penulis yang baik dapat mengembangkan tema cerita sedemikian rupa hingga tingkat klise menjadi tipis.
3. Aksi
Seberapa banyak kejadian-kejadian yang membuat plot bertambah maju/berkembang? Aksi-aksi bagaimana yang membuat hubungan antartokoh atau cerita bertambah rumit. Ada penulis yang membuat cerita berputar-putar di itu-itu juga sehingga narasinya hanya memperbanyak halaman saja tanpa memajukan plot. Banyak-Sedikit perputaran cerita memang tak bisa diperdebatkan. Namanya juga seni, suka-suka yang baca, kan? Bagi remaja, cerita romansa yang banyak mempunyai adegan asmara mungkin akan tampak asoy, tetapi bagi para dewasa, mungkin bobot ceritalah yang menjadi tolak ukur suatu cerita itu menarik. Bandingkan novel-novel Barbara Cartland atau Jane Austen dengan novel-novel populer saat ini, saya yakin Anda akan cepat menemukan perbedaannya.
4. Penokohan
Seberapa banyak round-characterflat-character, atau messenger character? Apakah narasi tentang tokoh dapat mengungkapkan kepribadian tokoh. Apakah perkembangan round-character cukup masuk akal sampai pada penutupan novel? Bagaimana hubungan antartokoh? Tokoh yang “gue banget” sangat disukai pembaca, sehingga mengamati penokohan pada novelbest seller menjadi pembelajaran yang sangat menguntungkan bagi penulis.
5. Teknik Narasi
Sudut pandang apa yang dipakai? Siapa narator-nya? Bagaimana kepribadian narator? Apakah narator mengarahkan pembaca ataukah hanya sekedar jejak supaya pembaca berpikir sendiri? Lebih banyak showing atau telling? Teknik narasi adalah cara menyampaikan suatu cerita agar enak dinikmati dan tidak menimbulkan kebosanan bagi pembaca.
6. Nada
Apakah cara tulis pada novel tersebut kaku? Formal sekali, mirip buku-buku nonfiksi, atau seperti gaya reporter surat kabar? Bagaimana narator menyapa pembaca. Sejajar-kah dengan pembaca atau-kah seperti guru sedang mendongeng untuk murid-muridnya? Nada-nada dalam novel seperti impersonal, formal ataukah intim harus sesuai dengan usia pembaca. Penulis haruslah memperhatikan sintaksis dan kosakata yang dipakai agar cerita dapat dicerna oleh pembaca.
7. Dialog
Penulis menyampaikan dialog dalam beberapa cara. Tokoh bisa saja bercakap dengan dirinya sendiri seperti ekacakap dalaman langsung (direct interior monologue), ekacakap dalaman tak langsung (indirect interior monologue) atau berbicara kepada pembaca. Apakah disamping tokoh, narator sendiri juga berbicara kepada pembaca? Bagaimana cara dialog tersebut hadir? Apakah cuma sekedar berkomentar atau menyela? Apakah suatu dialog terasa realis sekali atau konvensional? Apakah dialog tersebut dapat menggantikan narasi, jejak (clue), atau mengandung foreshadowing? Ataukah sekedar cliffhanger saja?
8. Proses Mental
Bagaimana proses mental para tokoh. Apakah pembaca tahu isi pikiran tokoh (omnicient)? Apakah kondisi kejiwaan tokoh berkembang sesuai dengan kemajuan plot? Apakah pembaca dapat mengetahui proses mental tersebut lewat warta dari penulis. Bagaimana caranya? Lewat teknik arus kesadaran? Komentar narator?
9. Keterlibatan Dramatik
Apakah pembaca dapat menangis, tertawa, sedih atau marah sesuai dengan cerita yang dibacanya? Sampai seberapa jauh pembaca terpengaruh? Atau malah sebaliknya, mereka merasa flat-flat saja dari awal sampai akhir novel?
10. Simbol
Penulis tidak selalu menyampaikan sesuatu secara eksplisit. Penulis terkadang menyandikan apa yang ingin mereka sampaikan lewat simbol. Peresensi perlu memahami bentuk-bentuk simbolis yang dipakai agar dapat memahami keseluruhan cerita.

Jenis-jenis Cerita yang Disukai Pembaca



Sumber: Pinterest
Jenis-jenis cerita berikut ini adalah hasil pengalaman baca saya pribadi. Namun dari pengalaman membuat cerpen untuk teman-teman ataupun atas permintaan “pelanggan cerita” saya, ternyata jenis-jenis cerita berikut bukan hanya saya yang menyukainya. Yang saya maksudkan dengan cerita disini tidak selalu berupa novel, tetapi bisa juga film, lagu atau puisi.
Cerita Inspirasi
Cerita jenis ini selalu mempunyai kekuatan untuk mengubah perilaku seseorang. Anda tentu masih ingat betapa laris-manis buku-buku Chicken Soup for The Souls. Kekuatan cerita ini terletak pada “tidak adanya perintah” kepada pembaca untuk melakukan sesuatu. Cerita inspirasi hanya mempengaruhi pembaca dengan cara radiasi. Atau bahasa kerennya persuasi.
Cerita Tak Terduga (Mengandung Twist)
Tak perduli ceritanya pendek atau sederhana, cerita tak terduga selalu menarik perhatian saya. Cerita jenis ini jelas dirancang dengan matang oleh penulisnya. Efek yang ditimbulkan sangat beragam terhadap pembaca. Bisa marah, jengkel, merasa tertipu, atau malah tertawa? Dalam hal twist, saya selalu tertipu oleh Agatha Christie.
Cerita Tentang Pantang-Menyerah
Saya atau Anda tentulah satu-dua kali pernah merasa putus asa. Belum tentu kita menerima pendapat orang, misal teman, orangtua atau pacar, saat kita berada dalam keadaan ini. Cerita tentang pantang-menyerah selalu memberi kita inspirasi untuk bangkit dari keterpurukan. Semoga para pengarang cerita pantang-menyerah selalu masuk surga. (Amin!)
Cerita Sedih
Para peneliti menemukan bahwa tubuh kita mengeluarkan bahan beracun saat emosi. Bahan-bahan tadi, seperti endorphin leuchine-enkephalin, adrenocorticotrophic hormone (ACTH) dan prolactin, dikeluarkan karena jasa air mata. Dengan dikeluarkan bahan-bahan tadi, tubuh kita terhindar dari tekanan darah tinggi, masalah hati dan sakit lambung.
Maka, jika Anda sedih dan tak bisa mengeluarkan air mata (terutama cowok), ada baiknya jika membaca cerita-cerita sedih. He..he…he…
Cerita sedih mungkin tak menyenangkan, tetapi entah kenapa, banyak orang menyukai cerita jenis ini. Yang saya maksudkan dengan sedih tidak melulu tentang akhir-sedih tetapi juga akhir-bahagia (orang bahagia juga bisa menangis, kan?). Terutama wanita. Lho, kenapa? Kata peneliti, sih, wanita menangis 3,2 kali sebulan, sedangkan cowok 1, 3 sebulan.
Cerita Terkuaknya Rahasia
Cerita misteri tidak selalu horor. Cerita misteri tidak selalu berhubungan dengan hantu. Cerita misteri yang menguak suatu rahasia sungguh menyenangkan. Bikin dag dig dug. Membuat penasaran yang pada akhirnya meletuskan jerawat kekesalan (terhadap awal-awal cerita) di akhir cerita. Saya sudah menghabiskan cerita-cerita Lima Sekawan, Hardy’s Boys dan Trio Detektif karena rasa penasaran ini.
Membangkitkan Senyum atau Tawa
Saya masih ingat cerita-cerita Lupus saat saya masih sekolah. Saya selalu tertawa-tawa dengan gaya bahasa Lupus, Lulu dan Boim. Jaman sekarang memang bukan jaman Lupus, tetapi buku-buku dari Raditya Dika dapat digunakan sebagai pengganti cerita-cerita tentang sebuah senyum. Oh, ya, tak lupa saya juga merekomendasikan Kayla Twitter Camping karya Triani Retno, cukup kocak.
Cerita Tentang Perjalanan
Masih ingat cerita 5 cm. Kisah tentang perjalanan mendaki gunung ini masih segar di ingatan saya. Bukan hanya karena Raline Syah yang cantih (eh?) tetapi karena prinsip-prinsip yang mereka pegang tentang sebuah kehidupan. Nah, ngomong-ngomong masalah kisah perjalanan, saya juga tak lupa saat-saat dengan begitu antusiasnya membaca perjalanan Roy yang ditulis Gola Gong.
Cerita Tentang Sebuah Mimpi yang Menjadi Nyata
Berapa banyak diantara kita yang dulu-dulunya mempunyai mimpi dan sampai sekarang (setelah sekian lama) masih terus berjuang mendapatkannya? Cerita tentang mimpi menjadi nyata juga termasuk jenis cerita yang saya sukai. Cerita-cerita seperti ini mengingatkan kita tentang cita-cita yang mungkin sudah terkubur. Cerita ini membuat kita bangkit dari adem-ayem menjadi bersemangat lagi mengejarnya.
Cerita Tentang Pantang Menyerah
Kisah-kisah seperti Surat Kecil untuk Tuhan (Agnes Donovar) dan 9 Summers 10 Autums (Iwan Setyawan) ataupun Montase (Windry Ramadina) sungguh buku bermutu. Saya tak bisa menjelaskan kepada Anda apa itu “Pantang Menyerah”, tetapi dengan membaca buku-buku tadi, saya harap Anda akan mengetahui maksud saya.
Cerita Tentang Sudut Pandang yang Lain
Selama kita hidup, kita mempunyai banyak sekali pengalaman. Pengalaman-pengalaman tadi akan membentuk kita menjadi orang seperti saat ini. Terkadang dengan membaca sebuah karya fiksi, kita jadi berpikir untuk memandang persoalan dari sudut pandang lain. Cerita-cerita jenis ini membuat kita berhati-hati saat menghakimi orang lain. Kita akan berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan terhadap nasib orang lain.
Dulu, dulu sekali sewaktu kita masih kecil, kita mungkin akan mudah mengatakan “Papa pelit” atau “Mama tidak sayang aku” saat keinginan kita tidak dituruti. Saat kita menjadi orangtua, kita sekarang tahu bagaimana sulitnya menjadi seperti orangtua kita dahulu. Kita sekarang tahu bagaimana sulitnya mencari uang. Cerita fiksi bisa mem-bypass rasa penyesalan kita sehingga tidak perlu berujar “Ah, sudah terlambat”.

Desain Kolam Ikan di Depan Rumah Minimalis

Selamat bertemu kembali sahabat pecinta rumah minimalis yang mudah mudahan selalu dalam lindungan tuhan yang maha esa, kali ini admin mau me...