Tampilkan postingan dengan label KOMUNIKASI BISNIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOMUNIKASI BISNIS. Tampilkan semua postingan

Inisiasi 8 Komunikasi Bisnis



Inisiasi 8
Teknik Lobi Dan Negosiasi

Dalam masyarakat yang semakin terdiferensiasi ke dalam berbagai kelompok seperti kelompok profesi atau kelompok yang sehaluan secara ideologis, dengan sendirinya melahirkan beragam kepentingan. Kepentingan-kepentingan tersebut selanjutnya diperjuangkan melalui kelompok atau organisasi.
Dalam dunia bisnis, ada berbagai publik organisasi bisnis seperti karyawan, manajemen, pemilik saham, kostumer dan pemerintah (regulator). Masing-masing memiliki kepentingan, yang harus diperjuangkan agar kepentingan tadi dapat terwujudkan dalam kenyataan. Salah satu usaha yang biasanya dilakukan guna mewujudkan kepentingannya tersebut adalah lobi. Misalnya, pengusaha melobi pemerintah sebagai regulator agar regulasi yang baru tidak merugikannya.
Begitu pentingnya peran lobi dalam bisnis, melahirkan profesi baru yang bernama pelobi (lobbyist). Di Amerika Serikat tahun 1990 tercatat 33.000 pelobi yang tercatat (registered lobbyist) di Senat Amerika Serikat.
Secara gramatikal, istilah ini arti sebenarnya menunjukkan pada salah satu bagian dari satu gedung, yaitu koridor, ruang tunggu atau ruang masuk pada satu gedung.  Istilah ini berasal dari Bahasa Latin lobia, laubia atau lobium yang artinya beranda, galeri atau tempat yang memiliki atap yang menempel pada satu bangunan.
Ada definisi yang menyatakan bahwa lobi adalah “upaya orang-orang yang bukan anggota legislatif mempengaruhi proses legislasi”, dan ada pula yang mendefinisikannya sebagai “praktik advokasi yang bersifat pribadi dengan tujuan mempengaruhi lembaga-lembaga yang memerintah dengan mengajukan satu titik pandang yang kondusif bagi tujuan-tujuan organisai atau individu yang melakukan advokasi itu.”
Dalam kerangka komunikasi bisnis, kegiatan lobi yakni mempengaruhi kebijakan atau keputusan.
Windschuttle dan Windschuttle (1988) mendefinisikan lobi sebagai upaya agar segalanya berjalan bukan berdasar perintah atau paksaan melainkan dengan cara bujukan (persuasi). Karena itu, para pelobi tidak memaksakan secara langsung kekuasaan yang dimilikinya terhadap orang yang menjadi sasaran lobinya.

Ada beberapa jenis lobi sebagai berikut:
  1. Lobi Tradisional, lobi ini biasanya memanfaatkan orang-orang terkenal, figur publik, atau mantan pejabat untuk mendekati kelompok-kelompok kepentingan agar tujuan organisasi/lembaga bisnis dapat tercapai. Pemanfaatan para mantan pejabat itu cukup menonjol di Indonesia, untuk didudukkan sebagai Presiden Komisaris atau anggota Dewan Komisaris sebuah perusahaan. Maksudnya tentu saja, agar mereka itu bisa melakukan lobi-lobi ke pemerintah melalui jalur yang sudah dikenalnya atau diketahuinya dengan baik.
  2. Lobi Akar Rumput (grass-root lobbying) bertujuan mempengaruhi para pengambil keputusan secara tidak langsung. Para pelobi justru mempengaruhi masyarakat dan nantinya masyarakat menyatakan pendapatnya sehingga keputusan yang diambil pemerintah sesuai dengan keinginan para pelobi itu yang seolah-olah merupakan aspirasi masyarakat. Artinya, para pelobi mengembangkan dukungan dari masyarakat atau melakukan rekayasa sosial untuk menunjukkan dukungan atau penolakan terhadap satu rencana kebijakan yang diputuskan para pengambil kebijakan.
  3. Lobi Political Action Committe adalah komite yang dibentuk perusahaan-perusahaan besar dengan maksud menempatkan calonnya di lembaga legislatif atau di eksekutif sehingga keputusan yang diambilnya tidak merugikan perusahaan yang tergabung dalam komiter tersebut.  Bahkan kepentingan perusahaan- perusahaan tersebut kemudian diidentikkan dengan kepentingan pemerintah. Di berbagai negara, lobi seperti ini selalu menjadi kontroversi di masyarakat.
       Sedangkan fungsi lobi adalah:
  1. Mempengaruhi pengambil keputusan agar keputusannya tidak merugikan para pelobi dari organisasi/lembaga bisnis.
  2. Untuk menafsirkan opini pejabat pemerintah yang kemudian diterjemahkan dalam kebijakan perusahaan
  3. Memperkirakan apa yang akan terjadi secara hukum dan menyampaikan rekomendasi pada perusahaan agar dapat menyesuaikan diri dengan peraturan baru dan memanfaatkan peraturan baru tersebut,
  4. Menyampaikan informasi tentang bagaimana pandangan perusahaan, organisasi atau kelompok masyarakat tertentu tentang satu peraturan,
  5. Meyakinkan para pembuat keputusan bahwa pelaksanaan peraturan akan membutuhkan waktu sebelum menjadi kebiasaan.

Contoh praktik lobi yang berlangsung di Australia, Windschuttlle dan Windschuttlle (1988), ada 4 (empat) pilihan bentuk badan hukum yang biasanya dipergunakan dalam membentuk kelompok lobi, yakni:
  1. Perhimpunan, yang merupakan sebuah lembaga non-profit yang keanggotaannya  memang terbatas. Selain itu, tentu juga  ruang-geraknya dibatasi untuk tidak mendapatkan dana dari hasil perdagangan. Perolehan dana hanya diijinkan melalui sumbangan dan bantuan. Asosiasi seperti ini biasanya dibentuk oleh kelompok-kelompok komunitas.
  2. Perusahaan perorangan, yakni lembaga yang banyak kemiripannya dengan perusahaan-perusahaan kecil. Banyak organisasi komunitas menggunakan struktur ini karena bentuk lembaga ini mampu mengatasi keterbatasan dalam memutarkan roda organisasi. Karena itu, lembaga ini hanya membutuhkan 2-5 pemilik perusahaan dan memiliki sedikitnya dua orang direktur. Selain itu, organisasi perusahaan seperti dapat go public di bursa efek. Karena organisasi ini dibentuk untuk keuntungan pribadi maka perusahaan tersebut sangat terbatas dalam memperoleh bantuan dana dari pemerintah, mengingat program-program pemerintah hanya memberi subsidi dan bantuan bagi organisasi-organisasi non-profit.
  3. Yayasan, yakni lembaga non-profit yang struktur organiasasinya memiliki sejumlah keuntungan yakni anggotanya tidak diminta menginvestasikan uang atau saham, pertanggungjawaban anggota disesuaikan dengan jaminan yang mereka berikan, dan pergantian kepemimpinan dilakukan secara bergilir. Sebagai lembaga non-profit, organisasi ini dibenarkan untuk mendapatkan bantuan dan subsidi dari pemerintah. Dibandingkan dengan organisasi non-profit lainnya, organisasi ini memiliki kebebasan yang besar dalam melakukan perniagaan dan mengelola keuangannya sendiri. AD/ART organisasi seperti ini menyatakan keuntungan yang diperoleh dari kegiatan-kegiatannya tidak dibagikan kepada para anggotanya melainkan didistribusikan kepada masyarakat atau organisasi lain yang serupa.
  4. Koperasi, setiap negara memiliki peraturan yang menetapkan pembentukan koperasi namun kebanyakan untuk pembentukannya dialihkan pada kelompok-kelompok komunitas. Karena peraturan ini dapat dipindahkan, maka struktur legal seperti ini merupakan daya tarik bagi kelompok-kelompok komunitas. Organisasi ini memiliki struktur internal yang fleksibel sehingga anggota-anggotanya dapat menyusun aturan-aturannya sendiri mengenai operasi organisasi dan orang yang akan ditunjuk untuk mengambil keputusan. Para anggota organisasi ini biasanya membeli saham namun jumlah kepemilikannya dibatasi. Aturan koperasi dapat dibuat secara tertulis, karena itu pemilihan ketua organisasi dipilih oleh anggotanya secara demokratis dan tidak berhubungan struktur kepemilikan.

Menurut Rhenald  Kesali (1994) dengan mengutip Fraser P. Seitel, tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Pengumpulan data dan fakta
  2. Interpretasi terhadap langkah-langkah pemerintah
  3. Interpretasi terhadap langkah-langkah perusahaan
  4. Membangun posisi.
  5. Melemparkan berita nasional.
  6. Mendukung kegiatan pemasaran

Inisiasi 7 Komunikasi Bisnis



Inisiasi 7
Menyelenggarakan Rapat Bisnis

Rapat menjadi salah satu wahana bagi berlangsungnya komunikasi di antara warga satu organisasi. Rapat menjadi ruang untuk menyelesaikan masalah, mengkoordinasikan tindakan, menyusun rencana kerja atau pengambilan keputusan. Dalam konteks komunikasi bisnis tersebut, rapat dengan tujuan seperti itu sering dilakukan.

Rapat merupakan kegiatan komunikasi. Rapat merupakan salah satu bentuk komunikasi kelompok. Rapat memegang peran penting dalam konteks komunikasi bisnis. Frekuensi rapat dengan kepuasan kerja. Bila kepuasaan kerja rendah namun jumlah rapat tinggi, maka yang akan dihasilkan adalah kualitas kerja yang rendah. Namun bila kepuasan kerja tinggi dan rapat jumlahnya tinggi juga maka kualitas kerja yang dihasilkan pun akan tinggi. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran rapat bagi satu organisasi bisnis.

Hal lain yang perlu kita perhatikan manakala menyelenggarakan rapat bisnis adalah apa yang dinamakan sebagai sense of meeting.
Sense of meeting  adalah kondisi di mana peserta rapat merasakan pentingnya pertemuan yang diselenggarakan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan setelah rapat selesai diselenggarakan. Oleh sebab itu, dengan sense of meeting ini, semua peserta rapat akan berupaya terlibat dalam pertemuan itu, berdialog, berdiskusi dan bertukar informasi untuk mencapai tujuan penyelenggaraan rapat.

Mengingat rapat merupakan sarana pendidikan dalam satu organisasi, maka rapat pun menjadi sarana penting dalam upaya melakukan perubahan organisasi. Kita tentu mengenal istilah learning organisation. Istilah ini menunjuk pada keadaan satu organisasi yang melakukan perubahan tidak hanya dengan mengubah dan memperbaharui atau menyesuaikan kebijakan, sistem dan sumberdaya manusia yang dijalankan satu organisasi. Melainkan, secara keseluruhan organisasi tersebut belajar. Semua orang yang ada dalam organisasi tersebut belajar sehingga mendorong terjadinya perubahan organisasi sebagai respon terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungan internal dan lingkungan eksternal satu organisasi.

Wuorio (2007) tentan aturan penggunaan laptop dalam rapat seperti berikut ini:
  1. Pastikan laptop memang diperlukan dalam rapat.
  2. Menempatkan laptopsesuai peruntukannya.
  3. Bisa memberikan alasan perlunya membawa laptop.
  4. Memanfaatkan kesempatan.
  5. Memilah Rapat.

Ada pun langkah-langkah praktis untuk penyelenggaraan rapat adalah  (a) memastikan apakah rapat memang perlu diselenggarakan; (b) menentukan orang-orang yang akan diundang; (c) menetapkan waktu penyelenggaraan; (d) menyusun agenda rapat dan jika ada sejumlah tujuan, sangat penting untuk menyusun prioritas bahasan rapat; (d) menyebarkan agenda rapat terlebih dahulu  pada orang yang akan diundang rapat sehingga mereka bisa mempersiapkan diri dengan baik; (e) mempersiapkan sarana audio-visual (rupa-rungu); (f) rapat hendaknya dimulai tepat waktu meski beberapa orang belum hadir; (g) hendaknya rapat dibuka dengan langsung menjelaskan agenda pertemuan atau pokok masalah dan membahas permasalahan yang lebih mudah dipecahkan baru kemudian masalah yang lebih berat; (h) menyediakan waktu yang cukup untuk pemabahasan setiap isu yang dibahas; (i) menunda diskusi sampai akhir rapat bila dalam rapat itu terjadi perdebatan yang memakan waktu; dan (j) menyebarluaskan notulasi rapat untuk mengingatkan setiap orang atas kesimpulan dan rencana aksi yang disepakati melalui rapat.

Inisiasi 6 Komunikasi Bisnis



Inisiasi 6
Teknik Presentasi

       Presentasi kita lakukan pada dasarnya untuk mengkomunikasikan gagasan, pemikiran atau informasi kepada orang lain. Gagasan, pemikiran atau informasi itu bisa bersifat bisnis, sosial, keagamaan atau apa pun juga. Intinya, kita menyampaikan sesuatu pada orang lain dengan tujuan tertentu. Kenapa “sesuatu” itu kita sampaikan, karena dalam pandangan kita bisa membawa manfaat atau kebaikan bagi diri kita dan orang lain.
            Dalam kegiatan bisnis, presentasi merupakan salah satu bentuk komunikasi yang penting. Orang mempresentasikan produk, sistem kerja, gagasan baru dalam pemecahan masalah, penjualan produk, pemasaran barang dan jasa atau paparan temuan riset pasar merupakan kegiatan yang lazim dilakukan dalam komunikasi bisnis. Siapa pun yang terlibat dalam kegiatan bisnis atau organisasi bisnis pasti akan melakukan presentasi.
Murai (2006) menyatakan bahwa presentasi adalah “mengupayakan agar khalayak memahami apa yang ingin dinyatakan atau diusulkan penyaji melalui media seperti huruf, kalimat, angka, gambar, suara dan sebagainya. Sedangkan tujuan presentasi adalah tercapainya kepuasan dan kesepakatan dengan khalayak. Sedangkan Anjali (2007:36-39) menyebutkan ciri-ciri presentasi yang membedakannya dari jenis-jenis pembicaraan lain seperti pidato atau pemaparan publik (public expose) adalah sebagai berikut:
  1. Biasanya dilakukan secara formal
  2. Biasanya disusun secara matang dan terencana
  3. Biasanya sudah ditentukan waktu, tempat dan materinya
  4. Biasanya dibantu oleh alat-alat peraga ataun alat-alat bantu presentasi
  5. Biasanya dipandu oleh seorang pemandu atau moderator
  6. Biasanya menghendaki adanya pihak lain sebagai sasaran presentasi
  7. Biasanya diikuti dengan sesi tanya jawab
  8. Biasanya memiliki tujuan dan taget tertentu

Langkah-langkah Penyusunan Materi Presentasi
1. Merumuskan tujuan, Menetapkan tujuan dan Memilih gaya dan nada     
 2. Menganalisis khalayak
3. Memilih saluran dan media komunikasi
4. Mengorganisasikan pesan  
5. Komposisi pesan    
6. Mengedit dan menulis-ulang pesan
7. Menyusun dan mengoreksi pesan

Adapun sistematika umum dalam menyusun pesan untuk presentasi adalah sebagai berikut: 
  1. Pendahuluan
Beberapa hal yang biasanya dikemukakan adalah:
-      perkenalan diri
-      pentingnya apa yang kita uraikan
-      manfaat yang bisa diperoleh khalayak
-      konsekuensi bila presentasi ini dilewatkan
  1. Isi
Ini merupakan bagian terpenting dari presentasi. Karena inilah bagian tempat kita menyampaikan pokok bahasan  sehingga isi pembahasan tidak melantur. Kita tetap fokus pada apa yang hendak kita sampaikan.
  1. Penutup
Bagian ini biasanya berisikan kesimpulan dan ucapan terima kasih. Di samping itu, pada bagian penutup ini selain menyimpulkan orang juga bisa membuat himbauan atau ajakan untuk bertindak.
Jenis Presentasi
Jenis Presentasi
Contoh
Briefing dan Pengumuman
Pengumuman prosedur asuransi kesehatan


Rapat Orientasi
Memandu orientasi karyawan baru

Program Pelatihan
Menjelaskan bagaimana mengoperasikan software baru komputer              
Laporan Kemajuan
Menguraikan hasil survai penelitian pasar
Presentasi Sosial
Pidato di depan kelompok-kelompok sosial masyarakat
Presentasi dalam Konferensi dan Konvensi
Laporan kemajuan teknologi perusahaan
Wawancara Media
Menjelaskan posisi perusahaan
Perkenalan
Memperkenalkan pegawai baru
Presentasi Penjualan
Mempresentasikan produk
Proposal Proyek dan Kebijakan
Usulan kebijakan baru
Upacara
Pidato pada acara pelepasan karyawan
Sumber: Adler dan Elmhorst (1996)

Secara umum ada 3 tujuan presentasi ini, yakni untuk:
  1. Memotivasi atau menghibur
  2. Menginformasikan atau menganalisis
  3. Mempersuasi atau kolaborasi.
 Anjali (2007:43) pun menunjukkan tujuan presentasi itu, paling tidak, mencakup:
  1. menjual
  2. menghibur
  3. memotivasi dan mengarahkan
  4. menginformasikan
  5. menerangkan atau memaparkan
  6. mengusulkan ide atau gagasan 

Desain Kolam Ikan di Depan Rumah Minimalis

Selamat bertemu kembali sahabat pecinta rumah minimalis yang mudah mudahan selalu dalam lindungan tuhan yang maha esa, kali ini admin mau me...